Management Broiler

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam, quis nostrud exercitation test link ullamco laboris nisi ut aliquip ex ea commodo consequat.

Breeding Farm (Parent Stock)

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam, quis nostrud exercitation test link ullamco laboris nisi ut aliquip ex ea commodo consequat.

Day old Chick

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam, quis nostrud exercitation test link ullamco laboris nisi ut aliquip ex ea commodo consequat.

Vaksin in Hatchery

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam, quis nostrud exercitation test link ullamco laboris nisi ut aliquip ex ea commodo consequat.

Brooding Management

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam, quis nostrud exercitation test link ullamco laboris nisi ut aliquip ex ea commodo consequat.

Persiapan Vaksinasi untuk Vaksin Killed

0 komentar

Persiapan Vaksinasi untuk Vaksin Killed:

- Untuk Killed vaccine, harus dilakukan proses "thawing" sebelum vaksin
disuntikkan ke ayam.
- Bila vaksinasi dimulai pada Jam 8 pagi, vaksin Killed harus dikeluarkan dari lemari
es dan diletakkan di dalam ruang penyimpanan produk biasa (room temperature)
sekitar Jam 10 malam (+/- 8 jam sebelum vaksinasi dimulai).
- Pada saat dilakukan vaksinasi, vaksin TIDAK dimasukkan ke dalam termos
dengan es batu. Tetapi cukup dimasukkan ke dalam termos pengangkut dan TIDAK
terkena sinar MATAHARI langsung.

Bumble Foot

0 komentar

Penyakit Bumble Foot pada Ayam

Penyakit ini sangat sering di temukan di peternakan ayam breeder ataupun layer, karena penyakit bumble foot sering terjadi pada ayam yang sudah menginjak usia 25 minggu sampai 40 (tahap keganansan) karena pada usia ini sering terdapat ayam yang sudah terinfeksi bakteri, dan pada usia ayam menginjak 41 minggu sampai 65 minggu bisa di katakan 25 percent dari jumlah ayam sakit pada usia 25 minggu sampai 40 minggu.

Penyakit bumble foot dapat di kategorikan dalam 3 tahap:
1. tahap pertama, dikarenakan ayam atau pun burung lama bertengger di tenggeran yang tidak sesuai, yang akan mengakibatkan luka pada pad atau dampal kaki ayam, tanda kemerahan akan timbul dalam beberapa waktu kedepan, maka dengan memberikan cream pada kaki ayam adalah langkah paling baik pada masa itu.
2. tahap serius, pada tahap serius, bagian kaki ayam yang memerah warnanya akan semakin meluas, mengakibatkan ke tidak stabilan pada kaki ayam, untuk kategori ini bisa menggunakan antibiotik untuk pengobatan.
3. tahap fatal. dalam tahap ini, bumble foot dengan ukuran yang lebih besar bisa mengakibatkan ayam lumpuh dan jika tidak di tangani dari awal bisa mengakibatkan kematian.

Akibat dari penyakit bumble foot ini adalah
- Berat badan ayam akan drastis menurun pada saat satu sampai 2 minggu (terhitung dari terjangkit nya infeksi)
- Ayam akan hilang selera makan
- Kaki ayam tidak bisa berfungsi dengan baik (pincang) dan lambat laun ayam akan beralih ke ayam unproductive (ayam yang tidak bisa menghasilkan telur), karena ayam sakit dan jika tidak di rawat, maka ayam akan mati.

Ciri-Cirinya:
Pertama-tama kaki ayam pada bagian jari2 kaki terlihat warna memerah dan bila di pegang akan terasa sedikit panas, lambat laun kian hari kian membengkak dan masih terus berwarna merah, Setelah dalam hitungan 3 sampai 4 minggu (terhitung dari terjadinya infeksi) akan berubah menjadi gumpalan nanah dan akan semakin mengeras pada bagian telapak kaki ayam yang menghidap penyakit tsbt.

Pada dasarnya, jika ayam sudah menghidap penyakit jenis ini (bumble foot) dan sudah menyerang kaki ayam 90 % ayam tidak bisa di obati, paling bisa di culling.

Penanggulangan dari awal
Di karenakan jenis penyakit ini di sebabkan oleh bakteri yang mengakibatkan infeksi pada bagian kaki, atau bakteri yang masuk dari bagian tubuh ayam yang terluka dan bakteri tersebut akan manyerang semua bagian persendian pada ayam tsb, maka kaki ayam yang menjadi sasaran utama,
Maka hindari ayam supaya tidak terluka (sebisa mungkin dan semampuh mungkin) seperti halnya di kandang yang menggunakan slat kayu, maupun bambu, atau kawat, maka jangan sampai ada bagian benda tajam di sekitar lahan yang di tempati oleh ayam, walaupun penyakit ini mungkin terjadi pada genetik ayam indukan sebelumnya, maka tidak ada salahnya untuk mengantisipasi terjadi nya kesalahan pada persekitaran kandang, misalnya paku yang ada di kayu menonjol keluar, dan sebisa mungkin jangan sampai terjadi agar kaki ayam tidak terluka oleh bagian paku yang keras, atau benda tajam lainnya yang mungkin di kandang ada benda keras lainnya.
Karena penyakit ini tidak terjadi pada saat ayam terluka, tetapi akan terjadi setelah beberapa minggu kedepan, maka benda tajam-lah musuh utama disini.
Jika di kandang menggunakan serbuk gergaji untuk alas (sebagai pengganti sekam) maka teliti lebih awal atau periksa kualitas serbuk gergaji tersebut, jangan sampai banyak potongan kayu kecil yang tajam (apalagi yang besar) walaupun sebesar tusuk gigi misalnya, itu juga sangat membahayakan. Jika tubuh atau kaki ayam terluka oleh benda tajam tersebut, maka tubuh ayam sudah terbuka untuk bakteri yang jumlahnya tidak terhitung di kawasan kandang tersebut, maka dengan satu kesempatan saja dan jika kondisi kekebalan tubuh ayam menurun, terjadinya infeksi akan sangat cepat.

Perawatan
Jika terjadi penyakit ini di kandang, dan kebetulan masih dalam tahap awal, atau tahap memerah nya kaki ayam, maka lebih baik anda memisahkan ayam yang sakit tersebut ke pen atau kandang terpisah untuk karantina semantara.

Ketika ayam sudah di pisahkan pada kandang karantina, lakukan lah penyuntikan secara berkala, atau setiap hari selama satu minggu (7hari), kemudian istirahatkan selama (7hari) dan ulangi penyuntikan antibiotik selama 7hari. untuk antibiotik, anda bisa mencari nya di poultry shop terdekat, misalnya bisa menggunakan tinisol, gentamicyn, medoxyl LA, Penstrep atau pun antibiotik sejenis nya,

Untuk penyuntikan, jika menggunakan Gentamicyn, maka bisa juga menggunakan Gentamicyn (disuntik di dada sebelah kanan) dan B-Komplek (digunakan sebelah kiri) selama 7 hari, untuk mengurangi tingkat stress dan meningkatkan kondisi kekebalan ayam tersebut

Istilah Bahasa Peternakan

0 komentar

Avian Influenza
Disingkat AI, sering disebut avian flu, bird flu atau flu burung adalah yang disebabkan oleh virus, dapat menular dengan cepat, dan dapat menyebabkan angka kematian pada unggas hingga 100%. Penyakit ini disebabkan oleh virus inlfuenza tipe A, sub tipe H5 dan H7. Semua bangsa unggas seperti ayam, itik, kalkun, burung puyuh dan burung liar dapat terserang tetapi wabah AI sering terjadi pada ayam dan kalkun..

Bio-safety Level (BSL 3)
Suatu level yang dianggap memadai untuk mencegah terjadinya transmisi suatu agen melalui saluran pernafasan dan dapat menimbulkan infeksi serius. Laboratorium BSL-3 adalah laboratorium yang memenuhi persyaratan internasional dalam pengamanan tertentu dari laboratorium untuk dapat memeriksa bakteri hidup dan atau virus hidup untuk menjamin keselamatan manusia dan lingkungannya.

Bio-security
Semua tindakan yang merupakan pertahanan pertama untuk pengendalian wabah dan dilakukan untuk mencegah semua kemungkinan kontak/penularan dengan peternakan tertular dan penyebaran penyakit.

Culling
Adalah pemusnahan hewan yang sakit dengan cara pemotongan atau pembakaran..

Depopulation
Atau pemusnahan selektif. Adalah tindakan untuk mengurangi populasi unggas yang menjadi sumber penularan. Langkah ini dilakukan terhadap semua peternakan tertular yang ditetapkan melalui diagnosa secara klinis dan patologi anatomis serta terhadap semua unggas yang tertular dan unggas sehat sekandang..

Epidemiology
The study of distribution, determinants and frequency of disease (including other events related to health) in populations.

Extraordinary Event
Studi distribusi, determinan-determinan dan frekuensi penyakit (termasuk peristiwa-peristiwa lain yang berkaitan dengan kesehatan) dalam populasi-populasi

FAO
Food and Agriculture Organization.

Flu Burung
Istilah yang sering digunakan untuk Avian Influenza (lihat definisi Avian Influenza)

H5N1
Suatu jenis/strain virus influenza tipa A yang bergerak pada tahun 1997 dari ternak ayam ke manusia.

High-Risk Group
Group of citizens defined according to their collective exposure which epidemiologically indicated an increasing risk of infection of a disease. In the case of bird flu, high-risk groups are animal farmers, animal-farm workers, poultry merchants, medical staffs and paramedics of animal healthcare, hospitals, labs and other medical facilities; owners of pet birds and communities near poultry farms.

Human pandemic influenza (HPI)
A condition where influenza is prevalent in several countries in the world.

ILI
Influenza like illness (penyakit yang menyerupai influenza) adalah penyakit-penyakit yang secara klinis mempunyai gejala seperti influenza yaitu panas, batuk, pilek, nyeri tenggorokan, kepala pusing, dan nyeri otot.

KLB
Kejadian Luar Biasa. Yaitu timbulnya atau meningkatnya kejadian kesakitan/kematian yang bermakna pada suatu daerah atau kelompok masyarakat dalam kurun waktu tertentu, dan merupakan keadaan yang dapat menjurus pada terjadinya wabah.

Kelompok resiko tinggi
Kelompok penduduk yang diddefinisikan berdasarkan keterpaparan (exposure) kolektif mereka yang secara epidemiologis terindikasi terjadinya peningkatan resiko terjangkit sutau penyakit. Pada kasus flu burung, yang tergolong kelompok resiko tinggi adalah peternak, pekerja peternakan, dan pedagang unggas; petugas medis dan paramedis kesehatan hewan, rumah sakit, laboratorium dan sarana pelayanan kesehatan lainnya; dan masyarakat pemilik unggas kesayangan dan masyarakat di sekitar peternakan.

Komunikasi risiko
Kegiatan komunikasi yang dikhususkan untuk mensosialisasikan berbagai risiko sehubungan dengan Flu Burung dan kemungkinan terjadinya pandemi influenza pada masa yang akan datang,sehingga masyarakat tetap waspada dan tidak panik.

Kluster
Sebuah kluster terjadi apabila dua atau lebih orang dikonfirmasi telahterinfeksi virus H5N1 di sebuah lokasi yang sama dalam jangka waktuyang berdekatan. Kluster menjadi perhatian banyak kalangan karenamenimbulkan dugaan bahwa penularan virus antar manusia telah terjadi.
Back to top

Laboratorium kesehatan hewan tipe A
Laboratorium hewan regional yang berfungsi melakukan penyidikan penyakit hewan yang saat ini dinamakan Balai Penyidikan Penyakit Veteriner Regional (BPPVR). Jumlah BPPVR saat ini ada 7 buah yang berlokasi di Medan, Sumatera Barat, Lampung, Yogyakarta, Sulawesi Selatan, Denpasar, Kalimantan Selatan.

Nosocomial Infection
Terjadinya infeksi oleh bakteri atau virus yang ada di rumah sakit, penularan penyakit dari penderita yang dirawat di rumah sakit kepada penderita lain atau petugas di rumah sakit.

OIE
Office International des Epizooties (Organisasi Kesehatan Hewan Dunia) adalah sebuah badan antar pemerintah untuk kesehatan hewan yang didirikan pada tahun 1924 dan saat ini beranggotakan 167 negara

Outbreak
The spread of an infectious disease that occurs in relatively large numbers with the number of victims increasing at a rate greater than normal in a certain time and place that can also cause disaster.

PPE
Personnel Protection Equipment (Alat Perlindungan Perseorangan atau APP) yaitu alat-alat yang harus dipakai oleh kelompok risiko tinggi seperti petugas kesehatan, petugas labratorium, penjamah unggas, peternak, pekerja peternakan untuk mencegah terjadinya penularan flu burung.

Poskeswan
Pos Kesehatan Hewan, merupakan unit lembaga pelayanan kesehatan hewan di tingkat lapangan yang berlokasi di kecamatan. Lembaga tersebut berfungsi memberikan pelayanan kesehatan hewan dan inseminasi buatan.

Probable Case
A probable case is similar to a suspect case with one of the following conditions:

-Limited laboratory evidence suggesting the presence of Influenza A virus (H5N1), for example: Hemagglutination Inhibitation (HI) test using H5N1 antigen.
-Within a short period the disease turns into pneumonial infection/respiratory failure/death.
-There is no evidence suggesting other causes of death.

Re-assortment, Genetic
Suatu kejadian di mana terjadi pencampuran (mixing) gen influenza pada hewan dan manusia dan mementuk virus sub tipe baru.

Reservoir animals
Hewan selain unggas yang dapat menjadi sumber berkembangnya virus AI.

Sektor 1, 2, 3 dan 4 sistem industri unggas:
Sistem peternakan unggas dibagi kedalam 4 kategori sektor yang didasarkan pada tipe usaha dan tingkat biosekuriti.
Sektor 1 adalah sistem industri perunggasan yang terpadu. Kelompok Industri perunggasan ini menerapkan sistem biosekuriti tingkat tinggi dan hasilnya dijual secara komersial di wilayah kota atau diekspor.
Sektor 2 adalah kelompok usaha unggas yang masuk ke dalam sistem produksi unggas komersial dengan menerapkan sistem biosekuriti tingkat menengah sampai tinggi. Hasil produksinya dijual di wilayah perkotaan dan desa.
Sektor 3 adalah kelompok usaha peternakan unggas yang hampir sama dengan sektor 2 akan tetapi sistem biosekuriti yang diterapkannya masih tingkat bawah.
Sektor 4 adalah kelompok usaha peternakan yang sistem pemeliharaannya dengan cara sistem backyard dan sistem biosekuritinya sangat kurang. Tipe usaha unggas semacam ini berpusat di wilayah desa dan merupakan usaha sambilan untuk memperleh tambahan pendapatn atau untuk dikonsumsi sendiri.

Sistem peternakan tunggal
Sistem usaha peternakan yang memelihara satu jenis ternak tanpa dicampur dengan jenis ternak lainnya (mixed farming), misalnya ternak unggas yang tidak dicampur dengan usaha peternakan babi di dalam satu lokasi/kawasan peternakan.

Stamping out
Adalah pemusnahan seluruh ternak unggas atau hewan lainnya yang diduga bisa terkena unggas di wilayah baru tertular AI.

Strain
Suatu kelompok dalam suatu spesies atau tipe. Misalnya strain influenza yang bersirkulasi akhir-akhir ini termasuk tipe A (H1N1), tipe A (H3N2), dan tipa B (H3N2).

Stockpiling
Penyediaaan obat dalam jumlah besar untuk menghadapi suatu keadaan kemungkinan terjadinya pandemi.

Surveillance
Kegiatan untuk menetapkan sumber infeksi di daerah baru tertular, penyebarannya, zooning penyakit dan dinamika perilaku virus.

Surveillance, Epidemiological
Kegiatan analisis secara sistematis dan terus menerus terhadap penyakit atau masalah kesehatan dan kondisi yang mempengaruhi terjadinya peningkatan dan penularan penyakit atau masalah kesehatan tersebut, agar dapat melakukan tindakan penanggulangan secara efektif dan efisien melalui proses pengumpulan data, pengolahan dan penyebaran informasi epidemiologi kepada penyelenggara kesehatan.

Type-A Health Laboratories
Regional animal laboratories whose function is conducting investigations on animal diseases, which at this time are named Balai Penyidikan Penyakit Veteriner Regional (BPPVR) (Regional Veterinary Disease Investigation Hall). The number of BPPVR at this time is 7 labs, located in Medan, West Sumatera, Lampung, Yogyakarta, Sulawesi Selatan, Denpasar, and South Kalimantan.


Unggas sentinel
Unggas sehat yang tidak divaksinasi AI dan ditempatkan pada sekelompok unggas/flok/kandang/desa yang divaksinasi AI di daerah tertular.

WHO
World Health Organization.

Zoning penyakit
Klasifikasi area yang terdiri dari daerah bebas, daerah terancam, dan daerah tertular. Daerah bebas adalah daerah propinsi atau pulau yang tidak pernah tertular atau tidak pernah dilaporkan adanya avian influenza. Daerah terancam adalah daerah yang tidak ada kasus, tetapi berbatsan langsung sedaratan dan tanpa batas alam dengan daerah tertular serta mengimpor sarana produksi peternakan dari daerah tertular. Daerah tertular adalah daerah yang ada kasus avian influenza yang didiagnosa secara klinis, patologi anatomis, epidemiologis dan dikonfirmasi secara laboratoris.

Upaya Pencegahan terhadap Penularan Penyakit Flu Burung

0 komentar

Untuk melakukan antisipasi terhadap resiko penularan penyakit flu burung ini dapat dilakukan upaya pencegahan antara lain :
(a) Ayam/ unggas yang positip terserang penyakit AI harus dimusnahkan dengan cara dibakar atau dikubur.
(b) Melakukan sanitasi lingkungan kandang serta hal-hal yang berhubungan dengan usaha peternakan ayam.
(c) Membuang kotoran ayam 2 hari sekali.
(d) Kecuali yang berkepentingan, dilarang keluar-masuk lokasi peternakan ayam.
(e) Melakukan vaksinasi pada ayam/ unggas di sekitar lokasi yang terkena penyakit AI, pada jarak radius 1 kilometer.
(f) Memutus rantai awal sumber penularan dengan memusnahkan (stamping out) pada unggas yang terinfeksi sesuai prosedur.

Standar air minum yang sehat untuk ayam

0 komentar

Standar air minum yang sehat untuk ayam yaitu:
- tidak berwarna
- tidak berbau
- jernih
- tidak ada endapan pH = 6-9
- kesadahan < 20 mg/liter
- garam (NaCI) < 1000 ppm
- total bahan terlarut < 3000 mg/liter
- nitrat dan nitrit < 5 ppm
- logam beracun < 0,5 ppm total
- jumlah bakteri < 3000/ml
- total jumlah coliform < 300/ml
- E.coli dan Salmonella sp. = 0 (tidak ada)

kualitas Air Minum pada peternakan ayam

9 komentar

kualitas Air Minum pada peternakan ayam

Salah satu penyakit yang kerap menghinggapi peternakan di Indonesia adalah Kolibasilosis. Penyakit ini sering dijumpai bahkan seolah-olah telah menjadi penyakit “wajib” pada peternakan ayam. Peternak kerapkali bertanya mengapa Kolibasilosis hampir pasti dialami selama periode pemeliharaan ayam dan kasusnya selalu berulang setiap periode.
Kejadian penyakit ini umumnya berkaitan langsung dengan pemilihan lokasi dan lingkungan peternakan terutama kebersihan. Kolibasilosis berhubungan langsung dengan sumber air minum di lapangan, karena keberadaan bakteri Escherichia coli penyebab Kolibasilosis di air dan tanah merupakan flora normal, sehingga tak heran jika hasil pemeriksaan laboratorium terhadap sampel air di lokasi peternakan hampir semua menunjukkan positif bakteri E. coli.
Berdasarkan pengamatan di lapangan, kebiasaan peternak menggunakan sumur dangkal sebagai sumber air minum untuk ternaknya merupakan penyebab utama Kolibasilosis selalu muncul. Sebabnya, sumur dangkal tersebut rawan tercemari oleh kuman E. coli terutama yang letaknya dekat dengan septic tank. Infeksi kuman coli diperparah bila air dari sumur tersebut tidak disanitasi.
Gangguan yang bisa ditimbulkan oleh Kolibasilosis ini diantaranya adalah gangguan pertumbuhan dan produksi telur, juga merupakan pendukung timbulnya penyakit lain pada saluran pernapasan, pencernaan dan reproduksi yang sulit ditanggulangi serta tingginya biaya pengobatan. Kolibasilosis juga dapat menular melalui telur tetas yang tercemar. Anak ayam yang menetas dari telur tercemar tersebut akan mempunyai banyak bakteri E. coli yang bersifat merugikan (patogen) di dalam usus dan feses. Feses mengandung bakteri E. coli yang dikeluarkan dari tubuh menjadi sumber penular utama.
Namun seringnya di lapangan peternak menganggap remeh keberadaan penyakit ini karena biasanya Kolibasilosis tidak menimbulkan kematian dan penurunan produksi telur yang tinggi. Disamping juga Kolibasilosis dianggap remeh karena mudah ditangani dengan tindakan pencegahan dan pengobatan dengan pemberian antibiotik. Padahal, selain besarnya biaya pengobatan, E. coli bisa menjadi resisten terhadap antibiotik, Kolibasilosis berdampak pula pada pertumbuhan ayam yang tidak optimal dan produksi telur tidak stabil.
Kolibasilosis dapat terjadi pada semua umur ayam. Pada anak ayam sampai umur 3 minggu, Kolibasilosis menyebabkan kematian dengan gejala omphalitis. Sedangkan pada ayam petelur, Kolibasilosis menyebabkan produksi telur turun, puncak produksi telur tidak tercapai, masa produksi telur tertunda dan mudah terinfeksi penyakit lain. Ayam pernah terinfeksi E. coli dapat menjadi pembawa (carrier) sehingga penyakit ini mudah kambuh di kemudian hari. Sementara, pada broiler Kolibasilosis menyebabkan kematian yang terjadi selama periode pemeliharaan dan perolehan berat badan saat panen yang rendah.
Bakteri E. coli banyak terdapat di usus bagian belakang dan dikeluarkan dari tubuh dalam jumlah besar bersama dengan feses. Di dalam feses, bakteri ini dapat bertahan sampai beberapa minggu, tetapi tidak tahan terhadap kondisi asam, kering dan desinfektan. Bakteri E. coli merupakan bakteri gram negatif berbentuk batang, dapat bergerak dan tidak membentuk spora.
Bakteri E. coli bisa masuk melalui saluran pernapasan saat udara sangat berdebu atau ayam sebelumnya telah menderita gangguan pernapasan. Bakteri yang terhirup tersebut akan melakukan infeksi dan berkembang biak (multiplikasi). Infeksi biasanya bersifat lokal pada kantung udara yang ditandai dengan penebalan dan menjadi keruh.
Sedangkan untuk saluran pencernaan biasanya E. coli menyerang usus yang telah mengalami luka karena cacing, jamur atau koksidiosis. Kerusakan dapat dilihat berupa peradangan, penebalan dinding usus, edema dan keluar lendir bercampur darah. Ayam mengalami diare dan kondisi tubuh dan secara fisiknya ayam akan mengalami diare dan menurunnya kondisi tubuh secara cepat. Kuman E. coli juga bisa masuk ke saluran reproduksi karena pencemaran dari feses. Di saluran reproduksi kuman coli menularkan telur dan menyebabkan kematian embrio atau telur pecah di saluran reproduksi sehingga ayam mati mendadak.
Faktor yang menjadi penunjang timbulnya Kolibasilosis adalah litter kering dan berdebu, litter basah/lembab, kadar amonia tinggi, ventilasi kandang jelek, populasi terlalu padat, stres akibat pertumbuhan yang terlalu cepat, adanya penyakit menular, dan reaksi vaksinasi yang berkepanjangan.
Peternak patut curiga ayamnya terserang Kolibasilosis bila menunjukkan gejala kurus, bulu kusam, nafsu makan turun, pertumbuhan terganggu, produksi telur turun, diare berwarna hijau dan berbau khas, serta bulu kotor dan lengket di sekitar dubur. Namun untuk lebih meneguhkan perlu dilakukan pengamatan dengan cermat terhadap gejala klinis dan perubahan bedah bangkai. Segera hubungi dokter hewan anda atau minta saran dari technical services langganan anda. Hal ini karena Kolibasilosis mempunyai gejala klinis hampir sama dengan penyakit salmonelosis, kolera unggas dan streptococcosis.

Selalu Muncul Berulang
Pada umumnya, ayam yang pernah terinfeksi Kolibasilosis sulit untuk sembuh sempurna. Kondisi stres dan daya tahan tubuh yang turun biasanya menjadi faktor pemicu munculnya kembali penyakit Kolibasilosis. Hal ini disebabkan oleh banyak faktor yang diantaranya adalah Kolibasilosis merupakan penyakit ikutan, artinya mengikuti penyakit lain seperti chronic respiratory disease (CRD), swollen head syndrome (SHS) dan Koksidiosis.
Selain itu proses terjadinya penyakit juga cenderung lambat. Gejala klinis Kolibasilosis baru dapat terlihat jelas jika penyakit sudah berlangsung lama dan bersifat kronis. Tempat predileksi (kesukaan) bakteri E. coli yang terletak di kantung udara, di mana pembuluh darah di daerah kantung udara sedikit sekali menyebabkan pengobatan secara sistemik (melalui sirkulasi darah) kurang efektif karena antibiotik yang mencapai kantung udara sangat sedikit sehingga obat tidak dapat terdistribusi optimal ke organ sasaran.
Drh Isra’ Noor General Manager PT Alltech Biotechnology Indonesia yang ditemui Infovet di kantornya Rabu (1/11) mengungkapkan bahwa bakteri E. coli adalah baketri oportunis yang bisa menimbulkan penyakit jika kondisi lingkungannya sesuai. Oleh karenanya penting disini untuk mempertahankan lingkungan kandang tetap bersih dan lakukan upaya pencegahan secara rutin dan terjadwal.
Lebih lanjut, ia menjelaskan, manifestasi bakteri E. coli bisa berbagai bentuk, misalnya pericarditis, perihepatitis dan peri¬tonitis. Yaitu ditandai permukaan jantung, hati dan perito¬neum tertutup selaput fibrin berwarna kelabu. Bentuk egg peritonitis akibat sumbatan massa mengkeju dan luruhnya oviduk. Ditemukan juga coli-granuloma, yaitu tumor seperti bunga kol yang keras dan ber¬warna kuning.
Bakteri E. coli mudah mencemari lingkungan kandang. Bakteri ini banyak terdapat di mana-mana yaitu air, debu, dan tanah. Apalagi saat ini akan memasuki musim penghujan yang selama musim ini air hujan yang mengalir bersama tanah dan feses yang mengandung bakteri E. coli akan mencemari air sumur atau air tanah. E. coli tahan lama di lingkungan, setelah keluar dari inang (tubuh ayam), bakteri ini dapat bertahan tanpa "nutrisi" selama 20-30 hari, sehingga dapat menginfeksi ayam dan Kolibasilosis kambuh lagi.
Semua hewan dapat terserang Kolibasilosis karena bakteri E. coli tidak khusus menyerang satu jenis hewan saja. Ia juga mudah menga¬lami mutasi menjadi entero pathogenic E. coli (EPEC), yaitu menjadi bakteri patogen di saluran pencernaan. Selain itu, juga bermutasi menjadi entero toxigenic E. coli (ETEC), yaitu bakteri yang menghasilkan racun dan kemudian merusak mukosa usus.

Mencegah Lebih Baik Daripada Mengobati
Untuk upaya pencegahan dan pengobatan bisa dilakukan dengan bermacam cara, diantaranya adalah:
1. Sanitasi dan desinfeksi kan¬dang dan peralatannya.
Kandang dibersihkan, dicuci dan disemprot dengan desinfektan. Tempat minum dicu¬ci setiap 2 kali sehari. Kemudian rendam tempat minum yang telah dicuci dalam desinfektan selama 30 menit, setiap 4 hari sekali. Majukan atau rnundurkan jadwal desinfeksi bila bertepatan dengan jadwal vaksinasi.
2. Mencegah tamu, hewan liar, dan hewan peliharaan lain masuk ke lingkungan kandang.
3. Mencegah stres.
Usahakan menghindari stres pada ayam dengan cara tatalaksana pemeliharaan yang benar, populasi ayam jangan terlalu padat, ventilasi udara cukup, dan diusahakan agar kadar amonia kurang di dalam kandang. Karena saat stres, semua bibit penyakit dapat dengan mudah masuk ke tubuh ayam.
4. Sanitasi air minum.
Sanitasi sumber air minum untuk ayam dari pencemaran logam berat dan kuman patogen dengan melarutkan desinfektan yang aman dikonsumsi ayam. Program sanitasi air minum dilakukan 1-2 kali dalam 1 minggu asal tidak mendekati jadwal vaksinasi. Sanitasi air rninum bisa dilakukan dengan klorinasi dengan cara memasukkan 3-5 ppm klorin ke dalam air minum. Lebih dari dosis tersebut, malah dapat menurunkan konsumsi ransum, konsumsi air minum dan produksi telur karena mengubah aras dan bau.
Di peternakan, klori¬nasi dilakukan menggunakan kaporit karena kaporit mengandung zat aktif klorin. Jika meng¬gunakan kaporit murni, maka untuk memperoleh kadar yang aman dalam air minum dibutuhkan 6-10 gram kaporit tiap 1000 liter. Namun, biasanya kaporit yang tersedia di pasaran adalah konsentrasi 50% sehingga dosis pemakaian menjadi dua kali dari kaporit murni, yaitu 12-20 gram tiap 1000 liter air.
Kaporit dapat mengubah rasa dan bau air sehingga dapat menurunkan konsumsi air dan ransum. Oleh sebab itu, air mi¬num yang mengandung kaporit harus dibiarkan terlebih dahulu minimal selama 6 jam sebelum diberikan ke ayam.
Kualitas air sangat menentukan kadar bakteri di dalamnya, untuk mengetahui apakah sumber air rninum bebas dari pencemaran logam berat atau kuman patogen dapat dilakukan pemeriksaan sampel air di laboratorium.
Standar air minum yang sehat untuk ayam yaitu:
- tidak berwarna
- tidak berbau
- jernih
- tidak ada endapan pH = 6-9
- kesadahan < 20 mg/liter
- garam (NaCI) < 1000 ppm
- total bahan terlarut < 3000 mg/liter
- nitrat dan nitrit < 5 ppm
- logam beracun < 0,5 ppm total
- jumlah bakteri < 3000/ml
- total jumlah coliform < 300/ml
- E.coli dan Salmonella sp. = 0 (tidak ada)

5. Tatalaksana litter
Cegah litter menjadi sangat kering dan berdebu dengan tidak memasang litter terlalu tebal (ketebalan litter cukup 7-12 cm saja). Program penggantian litter secara berkala, biasanya untuk ayam pedaging dilakukan 1 kali sampai masa panen. Litter yang basah jangan dibalik tapi ditambah yang baru.

6. Segera obati
Ayam yang terserang penyakit saluran pernapasan segera diobati. Pengobatan dilakukan sedini mungkin dengan pertimbangan populasi bakteri E. coli masih relatif sedikit dan mencegah penyebaran bakteri E. coli yang lebih banyak. Pengobatan belum tentu bisa menyembuhkan penyakit colibacillosis secara tuntas jika bakteri E. Coli sudah banyak bersarang di tubuh ayam (sudah parah). Kandang panggung bisa digunakan sebagai alternatif mencegah penyakit Kolibasilosis yang selalu muncul.
Pengobatan penyakit Kolibasilosis menggunakan antibiotik untuk menghambat pertumbuhan atau membunuh bakteri E. coli. Untuk menghindari resistensi obat, jika pernah menggunakan satu jenis obat tertentu selama 3 periode pemeliharaan, sebaiknya periode pemeliharaan berikutnya meng¬gunakan antibiotik dari golongan yang berbeda.
Pada dasarnya, penyakit Kolibasilosis lebih dipengaruhi oleh lingkungan karena sebenarnya kejadian penyakit ini dapat ditekan asalkan peternak selalu menerapkan tatalaksana pemeliharaan yang baik. (wan)

Kualitas Air Minum dalam peternakan

0 komentar

Kualitas Air Minum dalam peternakan

Dari hasil pemantauan terhadap kualitas air peternakan hampir 80% lebih sampel air masih bermasalah atau tidak sesuai standar untuk dikonsumsi ayam. Dengan latar belakang data tersebut dan mengingat arti penting air dalam pemeliharaan ayam.

Fakta Lapangan

Untuk melihat permasalahan kualitas air yang sering terjadi di farm. Hasilnya sampel air yang dikirim dari beberapa wilayah di Indonesia, permasalahan yang sering terjadi diantaranya yaitu adanya cemaran mikroba (bakteri Eschericia coli), pH tidak sesuai standar dan kesadahan air melebihi standar.

Cemaran bakteri E. coli di air minum dapat memicu terjadinya penyakit colibacillosis, sehingga penyembuhan penyakit ini lebih sulit diatasi tanpa menghilangkan cemaran bakteri di air minum. Sedangkan pH air tidak sesuai standar dan air yang sadah akan merugikan, terutama ketika sedang ada jadwal pengobatan atau vaksinasi. Sebagai contoh antibiotik golongan sulfonamide potensinya akan turun jika dilarutkan pada air dengan pH asam, serta antibiotik dari golongan tetrasiklin potensinya akan turun jika dilarutkan pada air dengan kesadahan melebihi standar atau pH basa. Selain itu, juga akan mempengaruhi potensi vaksin dalam pembentukan kekebalan.

Penyebab Rendahnya Kualitas Air

Pernahkah kita bertanya, kenapa air di farm kita masih terindentifikasi adanya bakteri E. coli atau bagaimana bisa air sadah, pH asam atau basa, padahal air di farm kita jernih ?

Kandungan mikroba E. coli

Adanya cemaran mikroba ini terkait dengan kedalaman sumur, dimana sumur dengan kedalaman terlalu dangkal (rendah) akan lebih mudah tercemar mikroba. Hal ini karena air yang masuk ke sumur merupakan resapan dari air permukaan, dimana bakteri E. coli dapat hidup di tanah (feses) sehingga akan ikut terserap melalui air tersebut. Sumber air dari sungai, juga mudah tercemar bakteri E. coli, karena sungai dimanfaatkan untuk aktivitas rumah tangga manusia atau ternak.

pH

Sumber air minum yang berasal dari sumur dengan kedalaman kurang dari 30 meter atau dekat dengan rawa/ danau, airnya akan memiliki pH asam (pH < 6). Hal ini terkait dengan adanya aktivitas fermentasi dari materi organik seperti daun, bangkai ikan atau tumbuhan air sehingga berakibat pada terjadinya penurunan pH air. Sedangkan sumur dengan kedalaman lebih dari 100 meter atau di daerah berkapur air minumnya akan cenderung memiliki pH basa (pH > 8), karena air yang diambil kaya akan mineral-mineral dari batuan.

Kesadahan

Air sadah merupakan air yang memiliki kandungan ion Ca2+ (kalsium) atau Mg2+ (magnesium) berlebih. Daerah berkapur atau air payau biasanya memiliki tingkat kesadahan tinggi.Untuk mendeteksi air sadah dapat dengan melarutkan detergen ke dalam air, jika sadah airnya tidak akan berbusa.

Agar penanganan tepat, kita harus mendeteksi permasalahan yang terjadi di sumber air di farm kita. Untuk itu lakukan pengujian terhadap kualitas air secara periodik, terutama saat terjadi pergantian musim. Kadar pH dapat diukur dengan pH meter atau kertas lakmus, sedangkan untuk mengukur kesadahan atau identifikasi bakteri E. coli hanya dapat diketahui dengan uji laboratorium di Medilab.


Solusi Efektif

Kandungan mikroba E. coli

Desinfeksi air merupakan salah satu cara efektif untuk mengatasi mikroba di air minum, diantaranya dengan pemberian antiseptik atau kaporit di air yang akan dikonsumsi ayam. Sebagai usaha pencegahan terhadap munculnya infeksi colibacillosis dan agar mikroba baik di usus ayam tidak terganggu lakukan dengan sistem pemberian 3-2-3, 3 hari pemberian antiseptik, 2 hari air minum biasa dan 3 hari pemberian antiseptik lagi. Sedangkan saat terjadi outbreak penyakit, pemberian antiseptik dapat dilakukan malam hari setelah pengobatan selesai dilakukan. Jangan mencampur desinfektan dengan obat/vitamin/vaksin. Khusus air minum yang ditreatment dengan Desinsep/kaporit setelah diendapkan minimal 12 jam baru dapat digunakan untuk melarutkan obat/ vitamin.

pH

Untuk mengatasi pH asam atau basa (standar pH 6-8) paling baik dengan menggunakan zat penetral pH. Biasanya yang dipakai yaitu soda kue (pH asam) atau asam sitrat (pH basa), namun keduanya dirasa kurang efektif karena dosis pemakaiannya belum pasti.

Kesadahan

Untuk mengatasi kesadahan, yang paling umum dilakukan yaitu dengan pemberian skim milk terutama pada saat jadwal vaksinasi.

Kualitas air salah akan menjadi masalah, jika tidak ditangani dengan benar. Oleh karena itu mulai dari awal kita harus memantau kualitas air di farm, sehingga kita bisa mengambil langkah tepat untuk penanganan jika terjadi masalah.

 

Kesehatan unggas © 2011 Design by Drh. Gusti Made | Sponsored by Gusti Nyoman S.Kom