Tampilkan postingan dengan label Perunggasan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Perunggasan. Tampilkan semua postingan
Cara Nekropsi Pada Ayam
Cara Nekropsi Pada Ayam
Sebelum hewan dieutanasi dipelajari terlebih dahulu diagnosis secara klinik ( menurut pemeriksaan sebelumnya/ keterangan dari pemilik ) dan dilakukan diagnosis sementara yang paling sesuai. Jika unggas masih dalam keadaan hidup diperiksa terlebih dahulu tubuh bagian luar dan diamati gejala klinik tertentu. Diperiksa secara teliti adanya parasit eksternal pada bulu dan kulit. Diamati warna pial dan cuping telinga. Diperhatikan pula terhadap kemungkinan adanya diare, leleran dari paruh, nares dan mata serta kemungkinan adanya kebengkakan dan perubahan warna daerah fasial. Unggas yang masih dalam kondisi hidup, unggas tersebut dapat dibunuh (eutanasi) dengan cara mematahkan leher pada persendian atlanto occipitalis atau emboli udara ke dalam jantung.
Bangkai hendaknya dibasahi terlebih dahulu (air biasa + desinfektan) untuk menghindari bulu tidak beterbangan karena hal tersebut dapat menyebabkan adanya pencemaran. Bangkai dibaringkan pada bagian dorsal dan dibuat suatu irisan pada kulit di bagian paha dan abdomen pada kedua sisi tubuh. Paha ditarik kebagian lateral dan diteruskan irisan dengan pisau sampai persendian coxo vemoralis. Iris kulit pada bagian medial dari kaki/ paha dan periksa otot dan persendian pada daerah tersebut. Buat irisan melintang pada kulit dari abdomen, lalu kulit ditarik kebagian anterior dan irisan tersebut diteruskan ke daerah thorax sampai mandibula. Irisan pada kulit juga diteruskan kebagian posterior di daerah mandibula. Perhatikan warna, kualitas, dan derajad dehidrasi dari jaringan subcutaneus dan otot-otot dada. Buat irisan pada otot di daerah brachialis ( kiri dan kanan ) untuk memisah nervus dan plexus brachialis. Buat irisan melintang pada dinding peritonium, di daerah ujung sternum ( processus xiphoideus ) ke arah lateral. Dibuat juga suatu irisan longitudinal di daerah abdomen melalui linea medianan ke arah posterior sampai daerah kloaka. Cara ini akan membuka cavum abdominalis.
Buat suatu irisan longitudinal melalui muskulus pectoralis pada kedua sisi sternum sepanjang persendian costocondral semua costae dari posterior ke anterior. Pada bagian anterior, irisan pada kedua sisi thorax harus bertemu pada daerah rongga dada, setelah memotong tulang coracoid dan clavicula cara ini akan membuka rongga dada.
Periksa kantong udara di daerah abdominalis dan thoracalis. Periksa juga letak berbagai organ di dalam cavum thorax dan abdominalis sesuai posisinya tanpa menyentuh organ-organ tersebut. Jika akan mengambil sampel untuk isolasi bakteri, jamur, atau virus harus dilakukan secara aseptis. Perhatikan kemungkinan adanya cairan, eksudat, transudat, atau darah di dalam rongga perut dan rongga dada. Saluran pencernaan dapat dikeluarkan dengan memotong oesophagus pada bagian proximal proventriculus. Tarik seluruh saluran pencernaan ke arah posterior, dengan memotong mesenterium sampai pada daerah kloaka. Periksa bursa fabricius terhadap abnormalitas tertentu. Hepar, lien dikeluarkan dan dilakukan pemeriksaan. Buat irisan longitudinal pada proventiculus, ventriculus, intestinum tenue, coecum, colon dan kloaka. Periksa terhadap kemungkinan adanya lesi dan parasit.
Saluran reproduksi dikeluarkan dan oviduct diiris secara longitudinal kemudian periksa ovarium yang meliputi stroma dan folikelnya. Periksa ureter dan ren pada posisinya. Organ tersebut dikeluarkan untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut. Nervus dan plexus ischiadicus diperiksa setelah otot abduktor pada bagian medial paha dipisahkan.
Bangkai dibalik hingga kepala menghadap operator. Dibuat irisan pada sisi kiri sudut mulut, diteruskan ke pharinx, oesophagus, dan ingluvies. Periksa terhadap adanya abnormalitas pada organ tersebut. Periksa glandula tiroidea dan paratiroidea di daerah trachea. Iris secara longitudinal melalui larinx, trachea, bronchus, sampai ke pulmo. Organ-organ tersebut dapat dikeluarkan secara bersamaan setelah pulmo diangkat dari perlekatannya. Pemeriksaan pulmo terhadap ukuran, warna, konsistensi, bidang irisan dan uji apung. Pemeriksaan jantung terhadap keadaan pericardium, ukuran, warna, dan apex cordis. Jantung diperiksa dengan membuat irisan longitudinal melalui atrium dan ventrikel kiri dan kanan atau irisan melintang di daerah ventrikel.
Paruh dipotong pada bagian atas secara melintang di daerah dekat mata sehingga cavum nasi dan sinus infra orbitalis dapat diperiksa terhadap adanya cairan. Semua persendian diperiksa dengan membuat irisan pada kulit di antara caput dan sulcus persendian. Pemeriksaan tendo, khususnya tendo gastroenemius dan tendo flexor digitalis.
Untuk memeriksa otak, kulit dan tulang leher di daerah persendian diiris sehingga foramen magnum dan medulla oblongata kelihatan. Otak dapat dikeluarkan sebagai berikut: daerah kepala dibuka, kemudian dibuat irisan dengan gunting dari foramen magnum ke arah os frontalis yang membentuk sudut 40º pada kedua sisi tulang tengkorak. Selanjutnya dibuat irisan melintang yang menghubungkan kedua sudut mata luar. Melalui irisan tersebut tengkorak dibuka. Setelah tengkorak dibuka meninges diiris, kemudian bulbus olfactorius, nervi cranialis dipotong sambil mengeluarkan seluruh bagian otak. Hipofisis cereberi yang masih melekat pada tulang tengkorak dikeluarkan dengan mengiris durameter yang mengelilingi sellatursica. Sinus paranasales dan sinus lainnya diperiksa dengan membuat suatu potongan melalui garis median hidung
Sebelum hewan dieutanasi dipelajari terlebih dahulu diagnosis secara klinik ( menurut pemeriksaan sebelumnya/ keterangan dari pemilik ) dan dilakukan diagnosis sementara yang paling sesuai. Jika unggas masih dalam keadaan hidup diperiksa terlebih dahulu tubuh bagian luar dan diamati gejala klinik tertentu. Diperiksa secara teliti adanya parasit eksternal pada bulu dan kulit. Diamati warna pial dan cuping telinga. Diperhatikan pula terhadap kemungkinan adanya diare, leleran dari paruh, nares dan mata serta kemungkinan adanya kebengkakan dan perubahan warna daerah fasial. Unggas yang masih dalam kondisi hidup, unggas tersebut dapat dibunuh (eutanasi) dengan cara mematahkan leher pada persendian atlanto occipitalis atau emboli udara ke dalam jantung.
Bangkai hendaknya dibasahi terlebih dahulu (air biasa + desinfektan) untuk menghindari bulu tidak beterbangan karena hal tersebut dapat menyebabkan adanya pencemaran. Bangkai dibaringkan pada bagian dorsal dan dibuat suatu irisan pada kulit di bagian paha dan abdomen pada kedua sisi tubuh. Paha ditarik kebagian lateral dan diteruskan irisan dengan pisau sampai persendian coxo vemoralis. Iris kulit pada bagian medial dari kaki/ paha dan periksa otot dan persendian pada daerah tersebut. Buat irisan melintang pada kulit dari abdomen, lalu kulit ditarik kebagian anterior dan irisan tersebut diteruskan ke daerah thorax sampai mandibula. Irisan pada kulit juga diteruskan kebagian posterior di daerah mandibula. Perhatikan warna, kualitas, dan derajad dehidrasi dari jaringan subcutaneus dan otot-otot dada. Buat irisan pada otot di daerah brachialis ( kiri dan kanan ) untuk memisah nervus dan plexus brachialis. Buat irisan melintang pada dinding peritonium, di daerah ujung sternum ( processus xiphoideus ) ke arah lateral. Dibuat juga suatu irisan longitudinal di daerah abdomen melalui linea medianan ke arah posterior sampai daerah kloaka. Cara ini akan membuka cavum abdominalis.
Buat suatu irisan longitudinal melalui muskulus pectoralis pada kedua sisi sternum sepanjang persendian costocondral semua costae dari posterior ke anterior. Pada bagian anterior, irisan pada kedua sisi thorax harus bertemu pada daerah rongga dada, setelah memotong tulang coracoid dan clavicula cara ini akan membuka rongga dada.
Periksa kantong udara di daerah abdominalis dan thoracalis. Periksa juga letak berbagai organ di dalam cavum thorax dan abdominalis sesuai posisinya tanpa menyentuh organ-organ tersebut. Jika akan mengambil sampel untuk isolasi bakteri, jamur, atau virus harus dilakukan secara aseptis. Perhatikan kemungkinan adanya cairan, eksudat, transudat, atau darah di dalam rongga perut dan rongga dada. Saluran pencernaan dapat dikeluarkan dengan memotong oesophagus pada bagian proximal proventriculus. Tarik seluruh saluran pencernaan ke arah posterior, dengan memotong mesenterium sampai pada daerah kloaka. Periksa bursa fabricius terhadap abnormalitas tertentu. Hepar, lien dikeluarkan dan dilakukan pemeriksaan. Buat irisan longitudinal pada proventiculus, ventriculus, intestinum tenue, coecum, colon dan kloaka. Periksa terhadap kemungkinan adanya lesi dan parasit.
Saluran reproduksi dikeluarkan dan oviduct diiris secara longitudinal kemudian periksa ovarium yang meliputi stroma dan folikelnya. Periksa ureter dan ren pada posisinya. Organ tersebut dikeluarkan untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut. Nervus dan plexus ischiadicus diperiksa setelah otot abduktor pada bagian medial paha dipisahkan.
Bangkai dibalik hingga kepala menghadap operator. Dibuat irisan pada sisi kiri sudut mulut, diteruskan ke pharinx, oesophagus, dan ingluvies. Periksa terhadap adanya abnormalitas pada organ tersebut. Periksa glandula tiroidea dan paratiroidea di daerah trachea. Iris secara longitudinal melalui larinx, trachea, bronchus, sampai ke pulmo. Organ-organ tersebut dapat dikeluarkan secara bersamaan setelah pulmo diangkat dari perlekatannya. Pemeriksaan pulmo terhadap ukuran, warna, konsistensi, bidang irisan dan uji apung. Pemeriksaan jantung terhadap keadaan pericardium, ukuran, warna, dan apex cordis. Jantung diperiksa dengan membuat irisan longitudinal melalui atrium dan ventrikel kiri dan kanan atau irisan melintang di daerah ventrikel.
Paruh dipotong pada bagian atas secara melintang di daerah dekat mata sehingga cavum nasi dan sinus infra orbitalis dapat diperiksa terhadap adanya cairan. Semua persendian diperiksa dengan membuat irisan pada kulit di antara caput dan sulcus persendian. Pemeriksaan tendo, khususnya tendo gastroenemius dan tendo flexor digitalis.
Untuk memeriksa otak, kulit dan tulang leher di daerah persendian diiris sehingga foramen magnum dan medulla oblongata kelihatan. Otak dapat dikeluarkan sebagai berikut: daerah kepala dibuka, kemudian dibuat irisan dengan gunting dari foramen magnum ke arah os frontalis yang membentuk sudut 40º pada kedua sisi tulang tengkorak. Selanjutnya dibuat irisan melintang yang menghubungkan kedua sudut mata luar. Melalui irisan tersebut tengkorak dibuka. Setelah tengkorak dibuka meninges diiris, kemudian bulbus olfactorius, nervi cranialis dipotong sambil mengeluarkan seluruh bagian otak. Hipofisis cereberi yang masih melekat pada tulang tengkorak dikeluarkan dengan mengiris durameter yang mengelilingi sellatursica. Sinus paranasales dan sinus lainnya diperiksa dengan membuat suatu potongan melalui garis median hidung
Istilah-istilah Gangguan Pada Kulit
Diposting oleh
Drh. Gusti Made Yudianto
0
komentar
Istilah-istilah Seputar Gangguan Pada Kulit
Di dalam membaca sebuah artikael mengenai kesehatan kulit kadangkalanya kita menemukan beberapa istilah yang masih cukup asing di telinga kita. Berikut ini akan kami coba jelaskan beberapa istilah yang sering disebutkan dalam masalah kesehatan kulit, semoga bermanfaat.
Akantosis
merupakan Penebalan epidermis oleh karena hiperplasia stratum spinosum atau stratum basale
Akantolisis
adalah memisahnya sel-sel secara individual di dalam stratum spinosum yang disertai oleh hilangnya hubungan antar sel.
Bulla (Bleb, vesikula ukuran besar)
Pembentukan ruangan kecil atau gelembung di dalam epidermis
Komedo
Kumpulan substansi keratinus yang kerapkali bercampur bakteri dan sel radang di dalam duktus kelenjar baseus.
Krusta
Residu kering dari serum, darah, nanah, epitel dan bakteri.
Diskeratosis
Disorganisasi sel-sel epidermal yang bersifat benigna, terutama di dalam stratum granulosum.
Erosi (Ekskoriasi)
Hilangnya epitel di bagian superficial yang biasanya disebabkan oleh faktor mekanik
Eritema
Kemerahan pada kulit oleh berbagai sebab.
Fisura
Celah sempit dan dalam pada epidermis yang dapat meluas ke bagian dermis
Hiperkeratosis
Penebalan stratum korneum akibat meningkatnya jumlah sel-sel yang mengalami keratinisasi. Nuklei atau inti sel dari sel-sel yang menebal biasanya hialng.
Parakeratosis
Penebalan stratum korneum yang tidak disertai oleh hilangnya inti dari sel yang mengalami penebalan.
Hiperpigmentasi
Peningkatan warna kulit atau jaringan lain yang berlebihan
Likenifikasi
Penebalan kulit yang disertai oleh abnormalitas tanda-tanda tertentu pada kulit yang biasanya akibat iritasi kulit yang bersifat kronis.
Makula
Perubahan warna kulit yang bersifat datar dan berbatas jelas. Jika batas dari perubahan warna tersebut lebih dari 1-2 cm disebut patches atau lempeng.
Papula
Tonjolan berbatas jelas yang berbentuk gelembung pada kulit. Pada kasus ini biasanya yang bersifat akan berwarna merah, dan pada stadium kronis berwarna kekuningan atau kecoklatan. Istilah lainya disebut Plaques jika diameter dari gelembung lebih dari beberapa milimeter.
Nodula
Papula dengan ukuran yang yang sangat besar.
Vesikula
Gelembung pada epidermis akibat akumulasi cairan (serum/darah) yang berada pada atau di bawah epidermis.
Pustula
Vesikula yang berisi nanah
Scales (sisik, Ketombe)
Bentuknya menyerupai dedak (bekatul kasar) atau sisik akibat kornifikasi yang tidak sempurna dari epidermis, sifatnya dapat lokal atau difus.
Spongiosa
Edema interseluler di dalam epidermis.
Ulser (Ulkus, Tukak)
Gangguan kontinuitas epidermis yang menyebabkan adanya hubungan langsung antara permukaan luar dengan epidermis.
Vitiligo
Suatu daerah tidak berpigmen dan berbatas jelas pada kulit.
Wheal (urtikaria, Hives)
Daerah berbatas jelas pada dermis yang mengalami edema dan pembengkakan sel. Urtikaria merupakan variasi dari papula, beberapa urtikaria dapat bergabung menjadi satu menjadi plaques yang berukuran besar.
Di dalam membaca sebuah artikael mengenai kesehatan kulit kadangkalanya kita menemukan beberapa istilah yang masih cukup asing di telinga kita. Berikut ini akan kami coba jelaskan beberapa istilah yang sering disebutkan dalam masalah kesehatan kulit, semoga bermanfaat.
Akantosis
merupakan Penebalan epidermis oleh karena hiperplasia stratum spinosum atau stratum basale
Akantolisis
adalah memisahnya sel-sel secara individual di dalam stratum spinosum yang disertai oleh hilangnya hubungan antar sel.
Bulla (Bleb, vesikula ukuran besar)
Pembentukan ruangan kecil atau gelembung di dalam epidermis
Komedo
Kumpulan substansi keratinus yang kerapkali bercampur bakteri dan sel radang di dalam duktus kelenjar baseus.
Krusta
Residu kering dari serum, darah, nanah, epitel dan bakteri.
Diskeratosis
Disorganisasi sel-sel epidermal yang bersifat benigna, terutama di dalam stratum granulosum.
Erosi (Ekskoriasi)
Hilangnya epitel di bagian superficial yang biasanya disebabkan oleh faktor mekanik
Eritema
Kemerahan pada kulit oleh berbagai sebab.
Fisura
Celah sempit dan dalam pada epidermis yang dapat meluas ke bagian dermis
Hiperkeratosis
Penebalan stratum korneum akibat meningkatnya jumlah sel-sel yang mengalami keratinisasi. Nuklei atau inti sel dari sel-sel yang menebal biasanya hialng.
Parakeratosis
Penebalan stratum korneum yang tidak disertai oleh hilangnya inti dari sel yang mengalami penebalan.
Hiperpigmentasi
Peningkatan warna kulit atau jaringan lain yang berlebihan
Likenifikasi
Penebalan kulit yang disertai oleh abnormalitas tanda-tanda tertentu pada kulit yang biasanya akibat iritasi kulit yang bersifat kronis.
Makula
Perubahan warna kulit yang bersifat datar dan berbatas jelas. Jika batas dari perubahan warna tersebut lebih dari 1-2 cm disebut patches atau lempeng.
Papula
Tonjolan berbatas jelas yang berbentuk gelembung pada kulit. Pada kasus ini biasanya yang bersifat akan berwarna merah, dan pada stadium kronis berwarna kekuningan atau kecoklatan. Istilah lainya disebut Plaques jika diameter dari gelembung lebih dari beberapa milimeter.
Nodula
Papula dengan ukuran yang yang sangat besar.
Vesikula
Gelembung pada epidermis akibat akumulasi cairan (serum/darah) yang berada pada atau di bawah epidermis.
Pustula
Vesikula yang berisi nanah
Scales (sisik, Ketombe)
Bentuknya menyerupai dedak (bekatul kasar) atau sisik akibat kornifikasi yang tidak sempurna dari epidermis, sifatnya dapat lokal atau difus.
Spongiosa
Edema interseluler di dalam epidermis.
Ulser (Ulkus, Tukak)
Gangguan kontinuitas epidermis yang menyebabkan adanya hubungan langsung antara permukaan luar dengan epidermis.
Vitiligo
Suatu daerah tidak berpigmen dan berbatas jelas pada kulit.
Wheal (urtikaria, Hives)
Daerah berbatas jelas pada dermis yang mengalami edema dan pembengkakan sel. Urtikaria merupakan variasi dari papula, beberapa urtikaria dapat bergabung menjadi satu menjadi plaques yang berukuran besar.
Kuning Telur Sebagai Antibodi DOC
Hubungan kuning telur dengan kekebalan tubuh DOC
Kuning telur secara garis besar memiliki 2 fungsi utama yang sangat penting bagi kehidupan anak ayam sejak masa embrional, sampai pada saat awal masa starter. Fungsi tersebut yaitu :
- Sebagai sumber nutrisi sementara bagi anak ayam, sekaligus
- Sebagai sumber kekebalan (antibodi maternal)
Antibodi maternal yang terkandung dalam kuning telur mulai diserap oleh embrio sejak 1 minggu embrio terbentuk dan akan terus berlanjut hingga anak ayam ditetaskan. Sisa kuning telur yang masih menempel pada anak ayam setelah menetas, masih mengandung antibodi meternal sebesar 7% (alwitech.wordpress.com). Antibodi maternal inilah yang paling berperan pada DOC karena sangat mempengaruhi status kesehatannya. Kekebalan/antibodi yang terkandung dalam kuning telur dikenal dengan gamma globulin (IgG atau Ig?). Antibodi tersebut diturunkan dari induk melalui transfer kekebalan pasif (passive immunity) dengan tujuan melindungi anak ayam dari serangan mikroorganisme. Karena pentingnya fungsi dari kuning telur inilah, maka kita harus memastikan bahwa sisa kuning telur bisa terserap seluruhnya dengan cepat agar anak ayam memiliki kekebalan awal.
Omphalitis
Black Navel
Pada umumnya sisa kuning telur akan habis dalam waktu 5 hari setelah menetas (Barnes et al., 2003). Cepat atau lambatnya penyerapan sisa kuning telur ini dipengaruhi oleh pemberian ransum dan air minum saat awal kedatangan ayam ke kandang (periode chick in) yang nyaman. Hal ini karena gerakan anti peristaltik yang mentransfer kuning telur hingga ke duodenum dirangsang oleh kehadiran makanan di saluran pencernaan (usus,red). Dari data penelitian diketahui bahwa sisa kuning telur digunakan lebih cepat oleh anak ayam yang sudah mendapatkan ransum lebih awal, dibandingkan pada anak ayam yang dipuasakan terlebih dahulu hingga 48 jam. Meskipun sebenarnya sisa kuning telur cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup anak ayam hingga umur 3-4 hari tanpa diberi ransum, namun tetap tidak dapat mendukung perkembangan saluran pencernaan dan sistem kekebalan maupun pertambahan berat badannya (World Poultry Vol 22 (4), 2006). Dampak yang terjadi apabila sisa kuning telur terlambat diserap salah satunya memicu timbulnya penyakit omphalitis.
Agar sisa kuning telur dapat terserap dengan cepat maka perlu diperhatikan penanganan ketika chick in, antara lain:
- Lakukan seleksi terhadap kualitas DOC. DOC dengan kualitas kurang bagus lebih baik dipisahkan karena hal tersebut bisa menjadi sumber penularan penyakit bagi ayam-ayam yang lain
- Berikan pemanas yang cukup sehingga ayam tidak terlalu kedinginan serta hindari faktor penyebab stres
- Segera berikan air minum dan ransum. Atur pula distribusi tempat minum ayam (TMA) dan tempat ransum ayam (TRA) agar setiap anak ayam memiliki kesempatan yang sama untuk makan dan minum
- Kontrol secara rutin kondisi ayam
Kuning telur secara garis besar memiliki 2 fungsi utama yang sangat penting bagi kehidupan anak ayam sejak masa embrional, sampai pada saat awal masa starter. Fungsi tersebut yaitu :
- Sebagai sumber nutrisi sementara bagi anak ayam, sekaligus
- Sebagai sumber kekebalan (antibodi maternal)
Antibodi maternal yang terkandung dalam kuning telur mulai diserap oleh embrio sejak 1 minggu embrio terbentuk dan akan terus berlanjut hingga anak ayam ditetaskan. Sisa kuning telur yang masih menempel pada anak ayam setelah menetas, masih mengandung antibodi meternal sebesar 7% (alwitech.wordpress.com). Antibodi maternal inilah yang paling berperan pada DOC karena sangat mempengaruhi status kesehatannya. Kekebalan/antibodi yang terkandung dalam kuning telur dikenal dengan gamma globulin (IgG atau Ig?). Antibodi tersebut diturunkan dari induk melalui transfer kekebalan pasif (passive immunity) dengan tujuan melindungi anak ayam dari serangan mikroorganisme. Karena pentingnya fungsi dari kuning telur inilah, maka kita harus memastikan bahwa sisa kuning telur bisa terserap seluruhnya dengan cepat agar anak ayam memiliki kekebalan awal.
Omphalitis
Black Navel
Pada umumnya sisa kuning telur akan habis dalam waktu 5 hari setelah menetas (Barnes et al., 2003). Cepat atau lambatnya penyerapan sisa kuning telur ini dipengaruhi oleh pemberian ransum dan air minum saat awal kedatangan ayam ke kandang (periode chick in) yang nyaman. Hal ini karena gerakan anti peristaltik yang mentransfer kuning telur hingga ke duodenum dirangsang oleh kehadiran makanan di saluran pencernaan (usus,red). Dari data penelitian diketahui bahwa sisa kuning telur digunakan lebih cepat oleh anak ayam yang sudah mendapatkan ransum lebih awal, dibandingkan pada anak ayam yang dipuasakan terlebih dahulu hingga 48 jam. Meskipun sebenarnya sisa kuning telur cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup anak ayam hingga umur 3-4 hari tanpa diberi ransum, namun tetap tidak dapat mendukung perkembangan saluran pencernaan dan sistem kekebalan maupun pertambahan berat badannya (World Poultry Vol 22 (4), 2006). Dampak yang terjadi apabila sisa kuning telur terlambat diserap salah satunya memicu timbulnya penyakit omphalitis.
Agar sisa kuning telur dapat terserap dengan cepat maka perlu diperhatikan penanganan ketika chick in, antara lain:
- Lakukan seleksi terhadap kualitas DOC. DOC dengan kualitas kurang bagus lebih baik dipisahkan karena hal tersebut bisa menjadi sumber penularan penyakit bagi ayam-ayam yang lain
- Berikan pemanas yang cukup sehingga ayam tidak terlalu kedinginan serta hindari faktor penyebab stres
- Segera berikan air minum dan ransum. Atur pula distribusi tempat minum ayam (TMA) dan tempat ransum ayam (TRA) agar setiap anak ayam memiliki kesempatan yang sama untuk makan dan minum
- Kontrol secara rutin kondisi ayam
Problema Imunosupresi
Problema imunosupresi pada ayam
Gangguan pada sistem pertahanan tubuh yang disebabkan oleh adanya faktor-faktor yang bersifat imunosupresi (faktor yang menekan/mendepresi respon pertahanan tubuh) mungkin menjadi suatu contoh yang paling representatif dewasa ini. Akibat jeleknya sistem pertahanan tubuh, maka akan muncul kasus-kasus infeksius yang sangat bervariasi baik dalam jenis maupun dalam derajat kepaharahannya, bahkan cenderung dalam bentuk infeksi kompleks yang berulang-ulang.
Sistem kekebalan ayam atau imun merupakan suatu mekanisme yang digunakan dalam tubuh ayam sebagai perlindungan terhadap bahaya yang ditimbulkan oleh pengaruh dari lingkungan sekitarnya.
Ada beberapa faktor yang menekan fungsi sistem kekebalan pada ayam yang menyebabkan imunosupresif. Perkembangan organ limfoid yang sub optimal akan menyebabkan terjadinya imunosupresi.
Penyebab imunosupresif antara lain disebabkan oleh stres intrinsik dan ekstrinsik, defisiensi dan ketidakseimbangan nutrisi, penyakit menular, dan metabolit mikroorganisme. Imunosupresif ditandai dengan respon terhadap vaksinasi yang tidak optimal, ayam peka terhadap berbagai infeksi, mudah sakit, respon terhadap pengobatan buruk, seolah-olah obat tidak manjur, dan organ-organ limfoid mengecil (thymus dan bursa).
Gangguan pada sistem pertahanan tubuh yang disebabkan oleh adanya faktor-faktor yang bersifat imunosupresi (faktor yang menekan/mendepresi respon pertahanan tubuh) mungkin menjadi suatu contoh yang paling representatif dewasa ini. Akibat jeleknya sistem pertahanan tubuh, maka akan muncul kasus-kasus infeksius yang sangat bervariasi baik dalam jenis maupun dalam derajat kepaharahannya, bahkan cenderung dalam bentuk infeksi kompleks yang berulang-ulang.
Sistem kekebalan ayam atau imun merupakan suatu mekanisme yang digunakan dalam tubuh ayam sebagai perlindungan terhadap bahaya yang ditimbulkan oleh pengaruh dari lingkungan sekitarnya.
Ada beberapa faktor yang menekan fungsi sistem kekebalan pada ayam yang menyebabkan imunosupresif. Perkembangan organ limfoid yang sub optimal akan menyebabkan terjadinya imunosupresi.
Penyebab imunosupresif antara lain disebabkan oleh stres intrinsik dan ekstrinsik, defisiensi dan ketidakseimbangan nutrisi, penyakit menular, dan metabolit mikroorganisme. Imunosupresif ditandai dengan respon terhadap vaksinasi yang tidak optimal, ayam peka terhadap berbagai infeksi, mudah sakit, respon terhadap pengobatan buruk, seolah-olah obat tidak manjur, dan organ-organ limfoid mengecil (thymus dan bursa).
Culling Standard
Culling Standard DOC
Dehidrate (leg),
Eyes deformity (various),
Unhealed (Navel),
String (navel),
Slipped tendon/perosis (leg),
Red hock (leg),
Dirty (navel),
Button (Black navel),
Cross beak (various),
Weak (various)
Dehidrate (leg),
Eyes deformity (various),
Unhealed (Navel),
String (navel),
Slipped tendon/perosis (leg),
Red hock (leg),
Dirty (navel),
Button (Black navel),
Cross beak (various),
Weak (various)
Persiapan Vaksinasi untuk Vaksin Killed
Diposting oleh
Drh. Gusti Made Yudianto
0
komentar
Persiapan Vaksinasi untuk Vaksin Killed:
- Untuk Killed vaccine, harus dilakukan proses "thawing" sebelum vaksin
disuntikkan ke ayam.
- Bila vaksinasi dimulai pada Jam 8 pagi, vaksin Killed harus dikeluarkan dari lemari
es dan diletakkan di dalam ruang penyimpanan produk biasa (room temperature)
sekitar Jam 10 malam (+/- 8 jam sebelum vaksinasi dimulai).
- Pada saat dilakukan vaksinasi, vaksin TIDAK dimasukkan ke dalam termos
dengan es batu. Tetapi cukup dimasukkan ke dalam termos pengangkut dan TIDAK
terkena sinar MATAHARI langsung.
- Untuk Killed vaccine, harus dilakukan proses "thawing" sebelum vaksin
disuntikkan ke ayam.
- Bila vaksinasi dimulai pada Jam 8 pagi, vaksin Killed harus dikeluarkan dari lemari
es dan diletakkan di dalam ruang penyimpanan produk biasa (room temperature)
sekitar Jam 10 malam (+/- 8 jam sebelum vaksinasi dimulai).
- Pada saat dilakukan vaksinasi, vaksin TIDAK dimasukkan ke dalam termos
dengan es batu. Tetapi cukup dimasukkan ke dalam termos pengangkut dan TIDAK
terkena sinar MATAHARI langsung.
Istilah Bahasa Peternakan
Avian Influenza
Disingkat AI, sering disebut avian flu, bird flu atau flu burung adalah yang disebabkan oleh virus, dapat menular dengan cepat, dan dapat menyebabkan angka kematian pada unggas hingga 100%. Penyakit ini disebabkan oleh virus inlfuenza tipe A, sub tipe H5 dan H7. Semua bangsa unggas seperti ayam, itik, kalkun, burung puyuh dan burung liar dapat terserang tetapi wabah AI sering terjadi pada ayam dan kalkun..
Bio-safety Level (BSL 3)
Suatu level yang dianggap memadai untuk mencegah terjadinya transmisi suatu agen melalui saluran pernafasan dan dapat menimbulkan infeksi serius. Laboratorium BSL-3 adalah laboratorium yang memenuhi persyaratan internasional dalam pengamanan tertentu dari laboratorium untuk dapat memeriksa bakteri hidup dan atau virus hidup untuk menjamin keselamatan manusia dan lingkungannya.
Bio-security
Semua tindakan yang merupakan pertahanan pertama untuk pengendalian wabah dan dilakukan untuk mencegah semua kemungkinan kontak/penularan dengan peternakan tertular dan penyebaran penyakit.
Culling
Adalah pemusnahan hewan yang sakit dengan cara pemotongan atau pembakaran..
Depopulation
Atau pemusnahan selektif. Adalah tindakan untuk mengurangi populasi unggas yang menjadi sumber penularan. Langkah ini dilakukan terhadap semua peternakan tertular yang ditetapkan melalui diagnosa secara klinis dan patologi anatomis serta terhadap semua unggas yang tertular dan unggas sehat sekandang..
Epidemiology
The study of distribution, determinants and frequency of disease (including other events related to health) in populations.
Extraordinary Event
Studi distribusi, determinan-determinan dan frekuensi penyakit (termasuk peristiwa-peristiwa lain yang berkaitan dengan kesehatan) dalam populasi-populasi
FAO
Food and Agriculture Organization.
Flu Burung
Istilah yang sering digunakan untuk Avian Influenza (lihat definisi Avian Influenza)
H5N1
Suatu jenis/strain virus influenza tipa A yang bergerak pada tahun 1997 dari ternak ayam ke manusia.
High-Risk Group
Group of citizens defined according to their collective exposure which epidemiologically indicated an increasing risk of infection of a disease. In the case of bird flu, high-risk groups are animal farmers, animal-farm workers, poultry merchants, medical staffs and paramedics of animal healthcare, hospitals, labs and other medical facilities; owners of pet birds and communities near poultry farms.
Human pandemic influenza (HPI)
A condition where influenza is prevalent in several countries in the world.
ILI
Influenza like illness (penyakit yang menyerupai influenza) adalah penyakit-penyakit yang secara klinis mempunyai gejala seperti influenza yaitu panas, batuk, pilek, nyeri tenggorokan, kepala pusing, dan nyeri otot.
KLB
Kejadian Luar Biasa. Yaitu timbulnya atau meningkatnya kejadian kesakitan/kematian yang bermakna pada suatu daerah atau kelompok masyarakat dalam kurun waktu tertentu, dan merupakan keadaan yang dapat menjurus pada terjadinya wabah.
Kelompok resiko tinggi
Kelompok penduduk yang diddefinisikan berdasarkan keterpaparan (exposure) kolektif mereka yang secara epidemiologis terindikasi terjadinya peningkatan resiko terjangkit sutau penyakit. Pada kasus flu burung, yang tergolong kelompok resiko tinggi adalah peternak, pekerja peternakan, dan pedagang unggas; petugas medis dan paramedis kesehatan hewan, rumah sakit, laboratorium dan sarana pelayanan kesehatan lainnya; dan masyarakat pemilik unggas kesayangan dan masyarakat di sekitar peternakan.
Komunikasi risiko
Kegiatan komunikasi yang dikhususkan untuk mensosialisasikan berbagai risiko sehubungan dengan Flu Burung dan kemungkinan terjadinya pandemi influenza pada masa yang akan datang,sehingga masyarakat tetap waspada dan tidak panik.
Kluster
Sebuah kluster terjadi apabila dua atau lebih orang dikonfirmasi telahterinfeksi virus H5N1 di sebuah lokasi yang sama dalam jangka waktuyang berdekatan. Kluster menjadi perhatian banyak kalangan karenamenimbulkan dugaan bahwa penularan virus antar manusia telah terjadi.
Back to top
Laboratorium kesehatan hewan tipe A
Laboratorium hewan regional yang berfungsi melakukan penyidikan penyakit hewan yang saat ini dinamakan Balai Penyidikan Penyakit Veteriner Regional (BPPVR). Jumlah BPPVR saat ini ada 7 buah yang berlokasi di Medan, Sumatera Barat, Lampung, Yogyakarta, Sulawesi Selatan, Denpasar, Kalimantan Selatan.
Nosocomial Infection
Terjadinya infeksi oleh bakteri atau virus yang ada di rumah sakit, penularan penyakit dari penderita yang dirawat di rumah sakit kepada penderita lain atau petugas di rumah sakit.
OIE
Office International des Epizooties (Organisasi Kesehatan Hewan Dunia) adalah sebuah badan antar pemerintah untuk kesehatan hewan yang didirikan pada tahun 1924 dan saat ini beranggotakan 167 negara
Outbreak
The spread of an infectious disease that occurs in relatively large numbers with the number of victims increasing at a rate greater than normal in a certain time and place that can also cause disaster.
PPE
Personnel Protection Equipment (Alat Perlindungan Perseorangan atau APP) yaitu alat-alat yang harus dipakai oleh kelompok risiko tinggi seperti petugas kesehatan, petugas labratorium, penjamah unggas, peternak, pekerja peternakan untuk mencegah terjadinya penularan flu burung.
Poskeswan
Pos Kesehatan Hewan, merupakan unit lembaga pelayanan kesehatan hewan di tingkat lapangan yang berlokasi di kecamatan. Lembaga tersebut berfungsi memberikan pelayanan kesehatan hewan dan inseminasi buatan.
Probable Case
A probable case is similar to a suspect case with one of the following conditions:
-Limited laboratory evidence suggesting the presence of Influenza A virus (H5N1), for example: Hemagglutination Inhibitation (HI) test using H5N1 antigen.
-Within a short period the disease turns into pneumonial infection/respiratory failure/death.
-There is no evidence suggesting other causes of death.
Re-assortment, Genetic
Suatu kejadian di mana terjadi pencampuran (mixing) gen influenza pada hewan dan manusia dan mementuk virus sub tipe baru.
Reservoir animals
Hewan selain unggas yang dapat menjadi sumber berkembangnya virus AI.
Sektor 1, 2, 3 dan 4 sistem industri unggas:
Sistem peternakan unggas dibagi kedalam 4 kategori sektor yang didasarkan pada tipe usaha dan tingkat biosekuriti.
Sektor 1 adalah sistem industri perunggasan yang terpadu. Kelompok Industri perunggasan ini menerapkan sistem biosekuriti tingkat tinggi dan hasilnya dijual secara komersial di wilayah kota atau diekspor.
Sektor 2 adalah kelompok usaha unggas yang masuk ke dalam sistem produksi unggas komersial dengan menerapkan sistem biosekuriti tingkat menengah sampai tinggi. Hasil produksinya dijual di wilayah perkotaan dan desa.
Sektor 3 adalah kelompok usaha peternakan unggas yang hampir sama dengan sektor 2 akan tetapi sistem biosekuriti yang diterapkannya masih tingkat bawah.
Sektor 4 adalah kelompok usaha peternakan yang sistem pemeliharaannya dengan cara sistem backyard dan sistem biosekuritinya sangat kurang. Tipe usaha unggas semacam ini berpusat di wilayah desa dan merupakan usaha sambilan untuk memperleh tambahan pendapatn atau untuk dikonsumsi sendiri.
Sistem peternakan tunggal
Sistem usaha peternakan yang memelihara satu jenis ternak tanpa dicampur dengan jenis ternak lainnya (mixed farming), misalnya ternak unggas yang tidak dicampur dengan usaha peternakan babi di dalam satu lokasi/kawasan peternakan.
Stamping out
Adalah pemusnahan seluruh ternak unggas atau hewan lainnya yang diduga bisa terkena unggas di wilayah baru tertular AI.
Strain
Suatu kelompok dalam suatu spesies atau tipe. Misalnya strain influenza yang bersirkulasi akhir-akhir ini termasuk tipe A (H1N1), tipe A (H3N2), dan tipa B (H3N2).
Stockpiling
Penyediaaan obat dalam jumlah besar untuk menghadapi suatu keadaan kemungkinan terjadinya pandemi.
Surveillance
Kegiatan untuk menetapkan sumber infeksi di daerah baru tertular, penyebarannya, zooning penyakit dan dinamika perilaku virus.
Surveillance, Epidemiological
Kegiatan analisis secara sistematis dan terus menerus terhadap penyakit atau masalah kesehatan dan kondisi yang mempengaruhi terjadinya peningkatan dan penularan penyakit atau masalah kesehatan tersebut, agar dapat melakukan tindakan penanggulangan secara efektif dan efisien melalui proses pengumpulan data, pengolahan dan penyebaran informasi epidemiologi kepada penyelenggara kesehatan.
Type-A Health Laboratories
Regional animal laboratories whose function is conducting investigations on animal diseases, which at this time are named Balai Penyidikan Penyakit Veteriner Regional (BPPVR) (Regional Veterinary Disease Investigation Hall). The number of BPPVR at this time is 7 labs, located in Medan, West Sumatera, Lampung, Yogyakarta, Sulawesi Selatan, Denpasar, and South Kalimantan.
Unggas sentinel
Unggas sehat yang tidak divaksinasi AI dan ditempatkan pada sekelompok unggas/flok/kandang/desa yang divaksinasi AI di daerah tertular.
WHO
World Health Organization.
Zoning penyakit
Klasifikasi area yang terdiri dari daerah bebas, daerah terancam, dan daerah tertular. Daerah bebas adalah daerah propinsi atau pulau yang tidak pernah tertular atau tidak pernah dilaporkan adanya avian influenza. Daerah terancam adalah daerah yang tidak ada kasus, tetapi berbatsan langsung sedaratan dan tanpa batas alam dengan daerah tertular serta mengimpor sarana produksi peternakan dari daerah tertular. Daerah tertular adalah daerah yang ada kasus avian influenza yang didiagnosa secara klinis, patologi anatomis, epidemiologis dan dikonfirmasi secara laboratoris.
Disingkat AI, sering disebut avian flu, bird flu atau flu burung adalah yang disebabkan oleh virus, dapat menular dengan cepat, dan dapat menyebabkan angka kematian pada unggas hingga 100%. Penyakit ini disebabkan oleh virus inlfuenza tipe A, sub tipe H5 dan H7. Semua bangsa unggas seperti ayam, itik, kalkun, burung puyuh dan burung liar dapat terserang tetapi wabah AI sering terjadi pada ayam dan kalkun..
Bio-safety Level (BSL 3)
Suatu level yang dianggap memadai untuk mencegah terjadinya transmisi suatu agen melalui saluran pernafasan dan dapat menimbulkan infeksi serius. Laboratorium BSL-3 adalah laboratorium yang memenuhi persyaratan internasional dalam pengamanan tertentu dari laboratorium untuk dapat memeriksa bakteri hidup dan atau virus hidup untuk menjamin keselamatan manusia dan lingkungannya.
Bio-security
Semua tindakan yang merupakan pertahanan pertama untuk pengendalian wabah dan dilakukan untuk mencegah semua kemungkinan kontak/penularan dengan peternakan tertular dan penyebaran penyakit.
Culling
Adalah pemusnahan hewan yang sakit dengan cara pemotongan atau pembakaran..
Depopulation
Atau pemusnahan selektif. Adalah tindakan untuk mengurangi populasi unggas yang menjadi sumber penularan. Langkah ini dilakukan terhadap semua peternakan tertular yang ditetapkan melalui diagnosa secara klinis dan patologi anatomis serta terhadap semua unggas yang tertular dan unggas sehat sekandang..
Epidemiology
The study of distribution, determinants and frequency of disease (including other events related to health) in populations.
Extraordinary Event
Studi distribusi, determinan-determinan dan frekuensi penyakit (termasuk peristiwa-peristiwa lain yang berkaitan dengan kesehatan) dalam populasi-populasi
FAO
Food and Agriculture Organization.
Flu Burung
Istilah yang sering digunakan untuk Avian Influenza (lihat definisi Avian Influenza)
H5N1
Suatu jenis/strain virus influenza tipa A yang bergerak pada tahun 1997 dari ternak ayam ke manusia.
High-Risk Group
Group of citizens defined according to their collective exposure which epidemiologically indicated an increasing risk of infection of a disease. In the case of bird flu, high-risk groups are animal farmers, animal-farm workers, poultry merchants, medical staffs and paramedics of animal healthcare, hospitals, labs and other medical facilities; owners of pet birds and communities near poultry farms.
Human pandemic influenza (HPI)
A condition where influenza is prevalent in several countries in the world.
ILI
Influenza like illness (penyakit yang menyerupai influenza) adalah penyakit-penyakit yang secara klinis mempunyai gejala seperti influenza yaitu panas, batuk, pilek, nyeri tenggorokan, kepala pusing, dan nyeri otot.
KLB
Kejadian Luar Biasa. Yaitu timbulnya atau meningkatnya kejadian kesakitan/kematian yang bermakna pada suatu daerah atau kelompok masyarakat dalam kurun waktu tertentu, dan merupakan keadaan yang dapat menjurus pada terjadinya wabah.
Kelompok resiko tinggi
Kelompok penduduk yang diddefinisikan berdasarkan keterpaparan (exposure) kolektif mereka yang secara epidemiologis terindikasi terjadinya peningkatan resiko terjangkit sutau penyakit. Pada kasus flu burung, yang tergolong kelompok resiko tinggi adalah peternak, pekerja peternakan, dan pedagang unggas; petugas medis dan paramedis kesehatan hewan, rumah sakit, laboratorium dan sarana pelayanan kesehatan lainnya; dan masyarakat pemilik unggas kesayangan dan masyarakat di sekitar peternakan.
Komunikasi risiko
Kegiatan komunikasi yang dikhususkan untuk mensosialisasikan berbagai risiko sehubungan dengan Flu Burung dan kemungkinan terjadinya pandemi influenza pada masa yang akan datang,sehingga masyarakat tetap waspada dan tidak panik.
Kluster
Sebuah kluster terjadi apabila dua atau lebih orang dikonfirmasi telahterinfeksi virus H5N1 di sebuah lokasi yang sama dalam jangka waktuyang berdekatan. Kluster menjadi perhatian banyak kalangan karenamenimbulkan dugaan bahwa penularan virus antar manusia telah terjadi.
Back to top
Laboratorium kesehatan hewan tipe A
Laboratorium hewan regional yang berfungsi melakukan penyidikan penyakit hewan yang saat ini dinamakan Balai Penyidikan Penyakit Veteriner Regional (BPPVR). Jumlah BPPVR saat ini ada 7 buah yang berlokasi di Medan, Sumatera Barat, Lampung, Yogyakarta, Sulawesi Selatan, Denpasar, Kalimantan Selatan.
Nosocomial Infection
Terjadinya infeksi oleh bakteri atau virus yang ada di rumah sakit, penularan penyakit dari penderita yang dirawat di rumah sakit kepada penderita lain atau petugas di rumah sakit.
OIE
Office International des Epizooties (Organisasi Kesehatan Hewan Dunia) adalah sebuah badan antar pemerintah untuk kesehatan hewan yang didirikan pada tahun 1924 dan saat ini beranggotakan 167 negara
Outbreak
The spread of an infectious disease that occurs in relatively large numbers with the number of victims increasing at a rate greater than normal in a certain time and place that can also cause disaster.
PPE
Personnel Protection Equipment (Alat Perlindungan Perseorangan atau APP) yaitu alat-alat yang harus dipakai oleh kelompok risiko tinggi seperti petugas kesehatan, petugas labratorium, penjamah unggas, peternak, pekerja peternakan untuk mencegah terjadinya penularan flu burung.
Poskeswan
Pos Kesehatan Hewan, merupakan unit lembaga pelayanan kesehatan hewan di tingkat lapangan yang berlokasi di kecamatan. Lembaga tersebut berfungsi memberikan pelayanan kesehatan hewan dan inseminasi buatan.
Probable Case
A probable case is similar to a suspect case with one of the following conditions:
-Limited laboratory evidence suggesting the presence of Influenza A virus (H5N1), for example: Hemagglutination Inhibitation (HI) test using H5N1 antigen.
-Within a short period the disease turns into pneumonial infection/respiratory failure/death.
-There is no evidence suggesting other causes of death.
Re-assortment, Genetic
Suatu kejadian di mana terjadi pencampuran (mixing) gen influenza pada hewan dan manusia dan mementuk virus sub tipe baru.
Reservoir animals
Hewan selain unggas yang dapat menjadi sumber berkembangnya virus AI.
Sektor 1, 2, 3 dan 4 sistem industri unggas:
Sistem peternakan unggas dibagi kedalam 4 kategori sektor yang didasarkan pada tipe usaha dan tingkat biosekuriti.
Sektor 1 adalah sistem industri perunggasan yang terpadu. Kelompok Industri perunggasan ini menerapkan sistem biosekuriti tingkat tinggi dan hasilnya dijual secara komersial di wilayah kota atau diekspor.
Sektor 2 adalah kelompok usaha unggas yang masuk ke dalam sistem produksi unggas komersial dengan menerapkan sistem biosekuriti tingkat menengah sampai tinggi. Hasil produksinya dijual di wilayah perkotaan dan desa.
Sektor 3 adalah kelompok usaha peternakan unggas yang hampir sama dengan sektor 2 akan tetapi sistem biosekuriti yang diterapkannya masih tingkat bawah.
Sektor 4 adalah kelompok usaha peternakan yang sistem pemeliharaannya dengan cara sistem backyard dan sistem biosekuritinya sangat kurang. Tipe usaha unggas semacam ini berpusat di wilayah desa dan merupakan usaha sambilan untuk memperleh tambahan pendapatn atau untuk dikonsumsi sendiri.
Sistem peternakan tunggal
Sistem usaha peternakan yang memelihara satu jenis ternak tanpa dicampur dengan jenis ternak lainnya (mixed farming), misalnya ternak unggas yang tidak dicampur dengan usaha peternakan babi di dalam satu lokasi/kawasan peternakan.
Stamping out
Adalah pemusnahan seluruh ternak unggas atau hewan lainnya yang diduga bisa terkena unggas di wilayah baru tertular AI.
Strain
Suatu kelompok dalam suatu spesies atau tipe. Misalnya strain influenza yang bersirkulasi akhir-akhir ini termasuk tipe A (H1N1), tipe A (H3N2), dan tipa B (H3N2).
Stockpiling
Penyediaaan obat dalam jumlah besar untuk menghadapi suatu keadaan kemungkinan terjadinya pandemi.
Surveillance
Kegiatan untuk menetapkan sumber infeksi di daerah baru tertular, penyebarannya, zooning penyakit dan dinamika perilaku virus.
Surveillance, Epidemiological
Kegiatan analisis secara sistematis dan terus menerus terhadap penyakit atau masalah kesehatan dan kondisi yang mempengaruhi terjadinya peningkatan dan penularan penyakit atau masalah kesehatan tersebut, agar dapat melakukan tindakan penanggulangan secara efektif dan efisien melalui proses pengumpulan data, pengolahan dan penyebaran informasi epidemiologi kepada penyelenggara kesehatan.
Type-A Health Laboratories
Regional animal laboratories whose function is conducting investigations on animal diseases, which at this time are named Balai Penyidikan Penyakit Veteriner Regional (BPPVR) (Regional Veterinary Disease Investigation Hall). The number of BPPVR at this time is 7 labs, located in Medan, West Sumatera, Lampung, Yogyakarta, Sulawesi Selatan, Denpasar, and South Kalimantan.
Unggas sentinel
Unggas sehat yang tidak divaksinasi AI dan ditempatkan pada sekelompok unggas/flok/kandang/desa yang divaksinasi AI di daerah tertular.
WHO
World Health Organization.
Zoning penyakit
Klasifikasi area yang terdiri dari daerah bebas, daerah terancam, dan daerah tertular. Daerah bebas adalah daerah propinsi atau pulau yang tidak pernah tertular atau tidak pernah dilaporkan adanya avian influenza. Daerah terancam adalah daerah yang tidak ada kasus, tetapi berbatsan langsung sedaratan dan tanpa batas alam dengan daerah tertular serta mengimpor sarana produksi peternakan dari daerah tertular. Daerah tertular adalah daerah yang ada kasus avian influenza yang didiagnosa secara klinis, patologi anatomis, epidemiologis dan dikonfirmasi secara laboratoris.
Upaya Pencegahan terhadap Penularan Penyakit Flu Burung
Diposting oleh
Drh. Gusti Made Yudianto
0
komentar
Untuk melakukan antisipasi terhadap resiko penularan penyakit flu burung ini dapat dilakukan upaya pencegahan antara lain :
(a) Ayam/ unggas yang positip terserang penyakit AI harus dimusnahkan dengan cara dibakar atau dikubur.
(b) Melakukan sanitasi lingkungan kandang serta hal-hal yang berhubungan dengan usaha peternakan ayam.
(c) Membuang kotoran ayam 2 hari sekali.
(d) Kecuali yang berkepentingan, dilarang keluar-masuk lokasi peternakan ayam.
(e) Melakukan vaksinasi pada ayam/ unggas di sekitar lokasi yang terkena penyakit AI, pada jarak radius 1 kilometer.
(f) Memutus rantai awal sumber penularan dengan memusnahkan (stamping out) pada unggas yang terinfeksi sesuai prosedur.
(a) Ayam/ unggas yang positip terserang penyakit AI harus dimusnahkan dengan cara dibakar atau dikubur.
(b) Melakukan sanitasi lingkungan kandang serta hal-hal yang berhubungan dengan usaha peternakan ayam.
(c) Membuang kotoran ayam 2 hari sekali.
(d) Kecuali yang berkepentingan, dilarang keluar-masuk lokasi peternakan ayam.
(e) Melakukan vaksinasi pada ayam/ unggas di sekitar lokasi yang terkena penyakit AI, pada jarak radius 1 kilometer.
(f) Memutus rantai awal sumber penularan dengan memusnahkan (stamping out) pada unggas yang terinfeksi sesuai prosedur.
Standar air minum yang sehat untuk ayam
Standar air minum yang sehat untuk ayam yaitu:
- tidak berwarna
- tidak berbau
- jernih
- tidak ada endapan pH = 6-9
- kesadahan < 20 mg/liter
- garam (NaCI) < 1000 ppm
- total bahan terlarut < 3000 mg/liter
- nitrat dan nitrit < 5 ppm
- logam beracun < 0,5 ppm total
- jumlah bakteri < 3000/ml
- total jumlah coliform < 300/ml
- E.coli dan Salmonella sp. = 0 (tidak ada)
- tidak berwarna
- tidak berbau
- jernih
- tidak ada endapan pH = 6-9
- kesadahan < 20 mg/liter
- garam (NaCI) < 1000 ppm
- total bahan terlarut < 3000 mg/liter
- nitrat dan nitrit < 5 ppm
- logam beracun < 0,5 ppm total
- jumlah bakteri < 3000/ml
- total jumlah coliform < 300/ml
- E.coli dan Salmonella sp. = 0 (tidak ada)
kualitas Air Minum pada peternakan ayam
Diposting oleh
Drh. Gusti Made Yudianto
9
komentar
kualitas Air Minum pada peternakan ayam
Salah satu penyakit yang kerap menghinggapi peternakan di Indonesia adalah Kolibasilosis. Penyakit ini sering dijumpai bahkan seolah-olah telah menjadi penyakit “wajib” pada peternakan ayam. Peternak kerapkali bertanya mengapa Kolibasilosis hampir pasti dialami selama periode pemeliharaan ayam dan kasusnya selalu berulang setiap periode.
Kejadian penyakit ini umumnya berkaitan langsung dengan pemilihan lokasi dan lingkungan peternakan terutama kebersihan. Kolibasilosis berhubungan langsung dengan sumber air minum di lapangan, karena keberadaan bakteri Escherichia coli penyebab Kolibasilosis di air dan tanah merupakan flora normal, sehingga tak heran jika hasil pemeriksaan laboratorium terhadap sampel air di lokasi peternakan hampir semua menunjukkan positif bakteri E. coli.
Berdasarkan pengamatan di lapangan, kebiasaan peternak menggunakan sumur dangkal sebagai sumber air minum untuk ternaknya merupakan penyebab utama Kolibasilosis selalu muncul. Sebabnya, sumur dangkal tersebut rawan tercemari oleh kuman E. coli terutama yang letaknya dekat dengan septic tank. Infeksi kuman coli diperparah bila air dari sumur tersebut tidak disanitasi.
Gangguan yang bisa ditimbulkan oleh Kolibasilosis ini diantaranya adalah gangguan pertumbuhan dan produksi telur, juga merupakan pendukung timbulnya penyakit lain pada saluran pernapasan, pencernaan dan reproduksi yang sulit ditanggulangi serta tingginya biaya pengobatan. Kolibasilosis juga dapat menular melalui telur tetas yang tercemar. Anak ayam yang menetas dari telur tercemar tersebut akan mempunyai banyak bakteri E. coli yang bersifat merugikan (patogen) di dalam usus dan feses. Feses mengandung bakteri E. coli yang dikeluarkan dari tubuh menjadi sumber penular utama.
Namun seringnya di lapangan peternak menganggap remeh keberadaan penyakit ini karena biasanya Kolibasilosis tidak menimbulkan kematian dan penurunan produksi telur yang tinggi. Disamping juga Kolibasilosis dianggap remeh karena mudah ditangani dengan tindakan pencegahan dan pengobatan dengan pemberian antibiotik. Padahal, selain besarnya biaya pengobatan, E. coli bisa menjadi resisten terhadap antibiotik, Kolibasilosis berdampak pula pada pertumbuhan ayam yang tidak optimal dan produksi telur tidak stabil.
Kolibasilosis dapat terjadi pada semua umur ayam. Pada anak ayam sampai umur 3 minggu, Kolibasilosis menyebabkan kematian dengan gejala omphalitis. Sedangkan pada ayam petelur, Kolibasilosis menyebabkan produksi telur turun, puncak produksi telur tidak tercapai, masa produksi telur tertunda dan mudah terinfeksi penyakit lain. Ayam pernah terinfeksi E. coli dapat menjadi pembawa (carrier) sehingga penyakit ini mudah kambuh di kemudian hari. Sementara, pada broiler Kolibasilosis menyebabkan kematian yang terjadi selama periode pemeliharaan dan perolehan berat badan saat panen yang rendah.
Bakteri E. coli banyak terdapat di usus bagian belakang dan dikeluarkan dari tubuh dalam jumlah besar bersama dengan feses. Di dalam feses, bakteri ini dapat bertahan sampai beberapa minggu, tetapi tidak tahan terhadap kondisi asam, kering dan desinfektan. Bakteri E. coli merupakan bakteri gram negatif berbentuk batang, dapat bergerak dan tidak membentuk spora.
Bakteri E. coli bisa masuk melalui saluran pernapasan saat udara sangat berdebu atau ayam sebelumnya telah menderita gangguan pernapasan. Bakteri yang terhirup tersebut akan melakukan infeksi dan berkembang biak (multiplikasi). Infeksi biasanya bersifat lokal pada kantung udara yang ditandai dengan penebalan dan menjadi keruh.
Sedangkan untuk saluran pencernaan biasanya E. coli menyerang usus yang telah mengalami luka karena cacing, jamur atau koksidiosis. Kerusakan dapat dilihat berupa peradangan, penebalan dinding usus, edema dan keluar lendir bercampur darah. Ayam mengalami diare dan kondisi tubuh dan secara fisiknya ayam akan mengalami diare dan menurunnya kondisi tubuh secara cepat. Kuman E. coli juga bisa masuk ke saluran reproduksi karena pencemaran dari feses. Di saluran reproduksi kuman coli menularkan telur dan menyebabkan kematian embrio atau telur pecah di saluran reproduksi sehingga ayam mati mendadak.
Faktor yang menjadi penunjang timbulnya Kolibasilosis adalah litter kering dan berdebu, litter basah/lembab, kadar amonia tinggi, ventilasi kandang jelek, populasi terlalu padat, stres akibat pertumbuhan yang terlalu cepat, adanya penyakit menular, dan reaksi vaksinasi yang berkepanjangan.
Peternak patut curiga ayamnya terserang Kolibasilosis bila menunjukkan gejala kurus, bulu kusam, nafsu makan turun, pertumbuhan terganggu, produksi telur turun, diare berwarna hijau dan berbau khas, serta bulu kotor dan lengket di sekitar dubur. Namun untuk lebih meneguhkan perlu dilakukan pengamatan dengan cermat terhadap gejala klinis dan perubahan bedah bangkai. Segera hubungi dokter hewan anda atau minta saran dari technical services langganan anda. Hal ini karena Kolibasilosis mempunyai gejala klinis hampir sama dengan penyakit salmonelosis, kolera unggas dan streptococcosis.
Selalu Muncul Berulang
Pada umumnya, ayam yang pernah terinfeksi Kolibasilosis sulit untuk sembuh sempurna. Kondisi stres dan daya tahan tubuh yang turun biasanya menjadi faktor pemicu munculnya kembali penyakit Kolibasilosis. Hal ini disebabkan oleh banyak faktor yang diantaranya adalah Kolibasilosis merupakan penyakit ikutan, artinya mengikuti penyakit lain seperti chronic respiratory disease (CRD), swollen head syndrome (SHS) dan Koksidiosis.
Selain itu proses terjadinya penyakit juga cenderung lambat. Gejala klinis Kolibasilosis baru dapat terlihat jelas jika penyakit sudah berlangsung lama dan bersifat kronis. Tempat predileksi (kesukaan) bakteri E. coli yang terletak di kantung udara, di mana pembuluh darah di daerah kantung udara sedikit sekali menyebabkan pengobatan secara sistemik (melalui sirkulasi darah) kurang efektif karena antibiotik yang mencapai kantung udara sangat sedikit sehingga obat tidak dapat terdistribusi optimal ke organ sasaran.
Drh Isra’ Noor General Manager PT Alltech Biotechnology Indonesia yang ditemui Infovet di kantornya Rabu (1/11) mengungkapkan bahwa bakteri E. coli adalah baketri oportunis yang bisa menimbulkan penyakit jika kondisi lingkungannya sesuai. Oleh karenanya penting disini untuk mempertahankan lingkungan kandang tetap bersih dan lakukan upaya pencegahan secara rutin dan terjadwal.
Lebih lanjut, ia menjelaskan, manifestasi bakteri E. coli bisa berbagai bentuk, misalnya pericarditis, perihepatitis dan peri¬tonitis. Yaitu ditandai permukaan jantung, hati dan perito¬neum tertutup selaput fibrin berwarna kelabu. Bentuk egg peritonitis akibat sumbatan massa mengkeju dan luruhnya oviduk. Ditemukan juga coli-granuloma, yaitu tumor seperti bunga kol yang keras dan ber¬warna kuning.
Bakteri E. coli mudah mencemari lingkungan kandang. Bakteri ini banyak terdapat di mana-mana yaitu air, debu, dan tanah. Apalagi saat ini akan memasuki musim penghujan yang selama musim ini air hujan yang mengalir bersama tanah dan feses yang mengandung bakteri E. coli akan mencemari air sumur atau air tanah. E. coli tahan lama di lingkungan, setelah keluar dari inang (tubuh ayam), bakteri ini dapat bertahan tanpa "nutrisi" selama 20-30 hari, sehingga dapat menginfeksi ayam dan Kolibasilosis kambuh lagi.
Semua hewan dapat terserang Kolibasilosis karena bakteri E. coli tidak khusus menyerang satu jenis hewan saja. Ia juga mudah menga¬lami mutasi menjadi entero pathogenic E. coli (EPEC), yaitu menjadi bakteri patogen di saluran pencernaan. Selain itu, juga bermutasi menjadi entero toxigenic E. coli (ETEC), yaitu bakteri yang menghasilkan racun dan kemudian merusak mukosa usus.
Mencegah Lebih Baik Daripada Mengobati
Untuk upaya pencegahan dan pengobatan bisa dilakukan dengan bermacam cara, diantaranya adalah:
1. Sanitasi dan desinfeksi kan¬dang dan peralatannya.
Kandang dibersihkan, dicuci dan disemprot dengan desinfektan. Tempat minum dicu¬ci setiap 2 kali sehari. Kemudian rendam tempat minum yang telah dicuci dalam desinfektan selama 30 menit, setiap 4 hari sekali. Majukan atau rnundurkan jadwal desinfeksi bila bertepatan dengan jadwal vaksinasi.
2. Mencegah tamu, hewan liar, dan hewan peliharaan lain masuk ke lingkungan kandang.
3. Mencegah stres.
Usahakan menghindari stres pada ayam dengan cara tatalaksana pemeliharaan yang benar, populasi ayam jangan terlalu padat, ventilasi udara cukup, dan diusahakan agar kadar amonia kurang di dalam kandang. Karena saat stres, semua bibit penyakit dapat dengan mudah masuk ke tubuh ayam.
4. Sanitasi air minum.
Sanitasi sumber air minum untuk ayam dari pencemaran logam berat dan kuman patogen dengan melarutkan desinfektan yang aman dikonsumsi ayam. Program sanitasi air minum dilakukan 1-2 kali dalam 1 minggu asal tidak mendekati jadwal vaksinasi. Sanitasi air rninum bisa dilakukan dengan klorinasi dengan cara memasukkan 3-5 ppm klorin ke dalam air minum. Lebih dari dosis tersebut, malah dapat menurunkan konsumsi ransum, konsumsi air minum dan produksi telur karena mengubah aras dan bau.
Di peternakan, klori¬nasi dilakukan menggunakan kaporit karena kaporit mengandung zat aktif klorin. Jika meng¬gunakan kaporit murni, maka untuk memperoleh kadar yang aman dalam air minum dibutuhkan 6-10 gram kaporit tiap 1000 liter. Namun, biasanya kaporit yang tersedia di pasaran adalah konsentrasi 50% sehingga dosis pemakaian menjadi dua kali dari kaporit murni, yaitu 12-20 gram tiap 1000 liter air.
Kaporit dapat mengubah rasa dan bau air sehingga dapat menurunkan konsumsi air dan ransum. Oleh sebab itu, air mi¬num yang mengandung kaporit harus dibiarkan terlebih dahulu minimal selama 6 jam sebelum diberikan ke ayam.
Kualitas air sangat menentukan kadar bakteri di dalamnya, untuk mengetahui apakah sumber air rninum bebas dari pencemaran logam berat atau kuman patogen dapat dilakukan pemeriksaan sampel air di laboratorium.
Standar air minum yang sehat untuk ayam yaitu:
- tidak berwarna
- tidak berbau
- jernih
- tidak ada endapan pH = 6-9
- kesadahan < 20 mg/liter
- garam (NaCI) < 1000 ppm
- total bahan terlarut < 3000 mg/liter
- nitrat dan nitrit < 5 ppm
- logam beracun < 0,5 ppm total
- jumlah bakteri < 3000/ml
- total jumlah coliform < 300/ml
- E.coli dan Salmonella sp. = 0 (tidak ada)
5. Tatalaksana litter
Cegah litter menjadi sangat kering dan berdebu dengan tidak memasang litter terlalu tebal (ketebalan litter cukup 7-12 cm saja). Program penggantian litter secara berkala, biasanya untuk ayam pedaging dilakukan 1 kali sampai masa panen. Litter yang basah jangan dibalik tapi ditambah yang baru.
6. Segera obati
Ayam yang terserang penyakit saluran pernapasan segera diobati. Pengobatan dilakukan sedini mungkin dengan pertimbangan populasi bakteri E. coli masih relatif sedikit dan mencegah penyebaran bakteri E. coli yang lebih banyak. Pengobatan belum tentu bisa menyembuhkan penyakit colibacillosis secara tuntas jika bakteri E. Coli sudah banyak bersarang di tubuh ayam (sudah parah). Kandang panggung bisa digunakan sebagai alternatif mencegah penyakit Kolibasilosis yang selalu muncul.
Pengobatan penyakit Kolibasilosis menggunakan antibiotik untuk menghambat pertumbuhan atau membunuh bakteri E. coli. Untuk menghindari resistensi obat, jika pernah menggunakan satu jenis obat tertentu selama 3 periode pemeliharaan, sebaiknya periode pemeliharaan berikutnya meng¬gunakan antibiotik dari golongan yang berbeda.
Pada dasarnya, penyakit Kolibasilosis lebih dipengaruhi oleh lingkungan karena sebenarnya kejadian penyakit ini dapat ditekan asalkan peternak selalu menerapkan tatalaksana pemeliharaan yang baik. (wan)
Salah satu penyakit yang kerap menghinggapi peternakan di Indonesia adalah Kolibasilosis. Penyakit ini sering dijumpai bahkan seolah-olah telah menjadi penyakit “wajib” pada peternakan ayam. Peternak kerapkali bertanya mengapa Kolibasilosis hampir pasti dialami selama periode pemeliharaan ayam dan kasusnya selalu berulang setiap periode.
Kejadian penyakit ini umumnya berkaitan langsung dengan pemilihan lokasi dan lingkungan peternakan terutama kebersihan. Kolibasilosis berhubungan langsung dengan sumber air minum di lapangan, karena keberadaan bakteri Escherichia coli penyebab Kolibasilosis di air dan tanah merupakan flora normal, sehingga tak heran jika hasil pemeriksaan laboratorium terhadap sampel air di lokasi peternakan hampir semua menunjukkan positif bakteri E. coli.
Berdasarkan pengamatan di lapangan, kebiasaan peternak menggunakan sumur dangkal sebagai sumber air minum untuk ternaknya merupakan penyebab utama Kolibasilosis selalu muncul. Sebabnya, sumur dangkal tersebut rawan tercemari oleh kuman E. coli terutama yang letaknya dekat dengan septic tank. Infeksi kuman coli diperparah bila air dari sumur tersebut tidak disanitasi.
Gangguan yang bisa ditimbulkan oleh Kolibasilosis ini diantaranya adalah gangguan pertumbuhan dan produksi telur, juga merupakan pendukung timbulnya penyakit lain pada saluran pernapasan, pencernaan dan reproduksi yang sulit ditanggulangi serta tingginya biaya pengobatan. Kolibasilosis juga dapat menular melalui telur tetas yang tercemar. Anak ayam yang menetas dari telur tercemar tersebut akan mempunyai banyak bakteri E. coli yang bersifat merugikan (patogen) di dalam usus dan feses. Feses mengandung bakteri E. coli yang dikeluarkan dari tubuh menjadi sumber penular utama.
Namun seringnya di lapangan peternak menganggap remeh keberadaan penyakit ini karena biasanya Kolibasilosis tidak menimbulkan kematian dan penurunan produksi telur yang tinggi. Disamping juga Kolibasilosis dianggap remeh karena mudah ditangani dengan tindakan pencegahan dan pengobatan dengan pemberian antibiotik. Padahal, selain besarnya biaya pengobatan, E. coli bisa menjadi resisten terhadap antibiotik, Kolibasilosis berdampak pula pada pertumbuhan ayam yang tidak optimal dan produksi telur tidak stabil.
Kolibasilosis dapat terjadi pada semua umur ayam. Pada anak ayam sampai umur 3 minggu, Kolibasilosis menyebabkan kematian dengan gejala omphalitis. Sedangkan pada ayam petelur, Kolibasilosis menyebabkan produksi telur turun, puncak produksi telur tidak tercapai, masa produksi telur tertunda dan mudah terinfeksi penyakit lain. Ayam pernah terinfeksi E. coli dapat menjadi pembawa (carrier) sehingga penyakit ini mudah kambuh di kemudian hari. Sementara, pada broiler Kolibasilosis menyebabkan kematian yang terjadi selama periode pemeliharaan dan perolehan berat badan saat panen yang rendah.
Bakteri E. coli banyak terdapat di usus bagian belakang dan dikeluarkan dari tubuh dalam jumlah besar bersama dengan feses. Di dalam feses, bakteri ini dapat bertahan sampai beberapa minggu, tetapi tidak tahan terhadap kondisi asam, kering dan desinfektan. Bakteri E. coli merupakan bakteri gram negatif berbentuk batang, dapat bergerak dan tidak membentuk spora.
Bakteri E. coli bisa masuk melalui saluran pernapasan saat udara sangat berdebu atau ayam sebelumnya telah menderita gangguan pernapasan. Bakteri yang terhirup tersebut akan melakukan infeksi dan berkembang biak (multiplikasi). Infeksi biasanya bersifat lokal pada kantung udara yang ditandai dengan penebalan dan menjadi keruh.
Sedangkan untuk saluran pencernaan biasanya E. coli menyerang usus yang telah mengalami luka karena cacing, jamur atau koksidiosis. Kerusakan dapat dilihat berupa peradangan, penebalan dinding usus, edema dan keluar lendir bercampur darah. Ayam mengalami diare dan kondisi tubuh dan secara fisiknya ayam akan mengalami diare dan menurunnya kondisi tubuh secara cepat. Kuman E. coli juga bisa masuk ke saluran reproduksi karena pencemaran dari feses. Di saluran reproduksi kuman coli menularkan telur dan menyebabkan kematian embrio atau telur pecah di saluran reproduksi sehingga ayam mati mendadak.
Faktor yang menjadi penunjang timbulnya Kolibasilosis adalah litter kering dan berdebu, litter basah/lembab, kadar amonia tinggi, ventilasi kandang jelek, populasi terlalu padat, stres akibat pertumbuhan yang terlalu cepat, adanya penyakit menular, dan reaksi vaksinasi yang berkepanjangan.
Peternak patut curiga ayamnya terserang Kolibasilosis bila menunjukkan gejala kurus, bulu kusam, nafsu makan turun, pertumbuhan terganggu, produksi telur turun, diare berwarna hijau dan berbau khas, serta bulu kotor dan lengket di sekitar dubur. Namun untuk lebih meneguhkan perlu dilakukan pengamatan dengan cermat terhadap gejala klinis dan perubahan bedah bangkai. Segera hubungi dokter hewan anda atau minta saran dari technical services langganan anda. Hal ini karena Kolibasilosis mempunyai gejala klinis hampir sama dengan penyakit salmonelosis, kolera unggas dan streptococcosis.
Selalu Muncul Berulang
Pada umumnya, ayam yang pernah terinfeksi Kolibasilosis sulit untuk sembuh sempurna. Kondisi stres dan daya tahan tubuh yang turun biasanya menjadi faktor pemicu munculnya kembali penyakit Kolibasilosis. Hal ini disebabkan oleh banyak faktor yang diantaranya adalah Kolibasilosis merupakan penyakit ikutan, artinya mengikuti penyakit lain seperti chronic respiratory disease (CRD), swollen head syndrome (SHS) dan Koksidiosis.
Selain itu proses terjadinya penyakit juga cenderung lambat. Gejala klinis Kolibasilosis baru dapat terlihat jelas jika penyakit sudah berlangsung lama dan bersifat kronis. Tempat predileksi (kesukaan) bakteri E. coli yang terletak di kantung udara, di mana pembuluh darah di daerah kantung udara sedikit sekali menyebabkan pengobatan secara sistemik (melalui sirkulasi darah) kurang efektif karena antibiotik yang mencapai kantung udara sangat sedikit sehingga obat tidak dapat terdistribusi optimal ke organ sasaran.
Drh Isra’ Noor General Manager PT Alltech Biotechnology Indonesia yang ditemui Infovet di kantornya Rabu (1/11) mengungkapkan bahwa bakteri E. coli adalah baketri oportunis yang bisa menimbulkan penyakit jika kondisi lingkungannya sesuai. Oleh karenanya penting disini untuk mempertahankan lingkungan kandang tetap bersih dan lakukan upaya pencegahan secara rutin dan terjadwal.
Lebih lanjut, ia menjelaskan, manifestasi bakteri E. coli bisa berbagai bentuk, misalnya pericarditis, perihepatitis dan peri¬tonitis. Yaitu ditandai permukaan jantung, hati dan perito¬neum tertutup selaput fibrin berwarna kelabu. Bentuk egg peritonitis akibat sumbatan massa mengkeju dan luruhnya oviduk. Ditemukan juga coli-granuloma, yaitu tumor seperti bunga kol yang keras dan ber¬warna kuning.
Bakteri E. coli mudah mencemari lingkungan kandang. Bakteri ini banyak terdapat di mana-mana yaitu air, debu, dan tanah. Apalagi saat ini akan memasuki musim penghujan yang selama musim ini air hujan yang mengalir bersama tanah dan feses yang mengandung bakteri E. coli akan mencemari air sumur atau air tanah. E. coli tahan lama di lingkungan, setelah keluar dari inang (tubuh ayam), bakteri ini dapat bertahan tanpa "nutrisi" selama 20-30 hari, sehingga dapat menginfeksi ayam dan Kolibasilosis kambuh lagi.
Semua hewan dapat terserang Kolibasilosis karena bakteri E. coli tidak khusus menyerang satu jenis hewan saja. Ia juga mudah menga¬lami mutasi menjadi entero pathogenic E. coli (EPEC), yaitu menjadi bakteri patogen di saluran pencernaan. Selain itu, juga bermutasi menjadi entero toxigenic E. coli (ETEC), yaitu bakteri yang menghasilkan racun dan kemudian merusak mukosa usus.
Mencegah Lebih Baik Daripada Mengobati
Untuk upaya pencegahan dan pengobatan bisa dilakukan dengan bermacam cara, diantaranya adalah:
1. Sanitasi dan desinfeksi kan¬dang dan peralatannya.
Kandang dibersihkan, dicuci dan disemprot dengan desinfektan. Tempat minum dicu¬ci setiap 2 kali sehari. Kemudian rendam tempat minum yang telah dicuci dalam desinfektan selama 30 menit, setiap 4 hari sekali. Majukan atau rnundurkan jadwal desinfeksi bila bertepatan dengan jadwal vaksinasi.
2. Mencegah tamu, hewan liar, dan hewan peliharaan lain masuk ke lingkungan kandang.
3. Mencegah stres.
Usahakan menghindari stres pada ayam dengan cara tatalaksana pemeliharaan yang benar, populasi ayam jangan terlalu padat, ventilasi udara cukup, dan diusahakan agar kadar amonia kurang di dalam kandang. Karena saat stres, semua bibit penyakit dapat dengan mudah masuk ke tubuh ayam.
4. Sanitasi air minum.
Sanitasi sumber air minum untuk ayam dari pencemaran logam berat dan kuman patogen dengan melarutkan desinfektan yang aman dikonsumsi ayam. Program sanitasi air minum dilakukan 1-2 kali dalam 1 minggu asal tidak mendekati jadwal vaksinasi. Sanitasi air rninum bisa dilakukan dengan klorinasi dengan cara memasukkan 3-5 ppm klorin ke dalam air minum. Lebih dari dosis tersebut, malah dapat menurunkan konsumsi ransum, konsumsi air minum dan produksi telur karena mengubah aras dan bau.
Di peternakan, klori¬nasi dilakukan menggunakan kaporit karena kaporit mengandung zat aktif klorin. Jika meng¬gunakan kaporit murni, maka untuk memperoleh kadar yang aman dalam air minum dibutuhkan 6-10 gram kaporit tiap 1000 liter. Namun, biasanya kaporit yang tersedia di pasaran adalah konsentrasi 50% sehingga dosis pemakaian menjadi dua kali dari kaporit murni, yaitu 12-20 gram tiap 1000 liter air.
Kaporit dapat mengubah rasa dan bau air sehingga dapat menurunkan konsumsi air dan ransum. Oleh sebab itu, air mi¬num yang mengandung kaporit harus dibiarkan terlebih dahulu minimal selama 6 jam sebelum diberikan ke ayam.
Kualitas air sangat menentukan kadar bakteri di dalamnya, untuk mengetahui apakah sumber air rninum bebas dari pencemaran logam berat atau kuman patogen dapat dilakukan pemeriksaan sampel air di laboratorium.
Standar air minum yang sehat untuk ayam yaitu:
- tidak berwarna
- tidak berbau
- jernih
- tidak ada endapan pH = 6-9
- kesadahan < 20 mg/liter
- garam (NaCI) < 1000 ppm
- total bahan terlarut < 3000 mg/liter
- nitrat dan nitrit < 5 ppm
- logam beracun < 0,5 ppm total
- jumlah bakteri < 3000/ml
- total jumlah coliform < 300/ml
- E.coli dan Salmonella sp. = 0 (tidak ada)
5. Tatalaksana litter
Cegah litter menjadi sangat kering dan berdebu dengan tidak memasang litter terlalu tebal (ketebalan litter cukup 7-12 cm saja). Program penggantian litter secara berkala, biasanya untuk ayam pedaging dilakukan 1 kali sampai masa panen. Litter yang basah jangan dibalik tapi ditambah yang baru.
6. Segera obati
Ayam yang terserang penyakit saluran pernapasan segera diobati. Pengobatan dilakukan sedini mungkin dengan pertimbangan populasi bakteri E. coli masih relatif sedikit dan mencegah penyebaran bakteri E. coli yang lebih banyak. Pengobatan belum tentu bisa menyembuhkan penyakit colibacillosis secara tuntas jika bakteri E. Coli sudah banyak bersarang di tubuh ayam (sudah parah). Kandang panggung bisa digunakan sebagai alternatif mencegah penyakit Kolibasilosis yang selalu muncul.
Pengobatan penyakit Kolibasilosis menggunakan antibiotik untuk menghambat pertumbuhan atau membunuh bakteri E. coli. Untuk menghindari resistensi obat, jika pernah menggunakan satu jenis obat tertentu selama 3 periode pemeliharaan, sebaiknya periode pemeliharaan berikutnya meng¬gunakan antibiotik dari golongan yang berbeda.
Pada dasarnya, penyakit Kolibasilosis lebih dipengaruhi oleh lingkungan karena sebenarnya kejadian penyakit ini dapat ditekan asalkan peternak selalu menerapkan tatalaksana pemeliharaan yang baik. (wan)
Kualitas Air Minum dalam peternakan
Diposting oleh
Drh. Gusti Made Yudianto
0
komentar
Kualitas Air Minum dalam peternakan
Dari hasil pemantauan terhadap kualitas air peternakan hampir 80% lebih sampel air masih bermasalah atau tidak sesuai standar untuk dikonsumsi ayam. Dengan latar belakang data tersebut dan mengingat arti penting air dalam pemeliharaan ayam.
Fakta Lapangan
Untuk melihat permasalahan kualitas air yang sering terjadi di farm. Hasilnya sampel air yang dikirim dari beberapa wilayah di Indonesia, permasalahan yang sering terjadi diantaranya yaitu adanya cemaran mikroba (bakteri Eschericia coli), pH tidak sesuai standar dan kesadahan air melebihi standar.
Cemaran bakteri E. coli di air minum dapat memicu terjadinya penyakit colibacillosis, sehingga penyembuhan penyakit ini lebih sulit diatasi tanpa menghilangkan cemaran bakteri di air minum. Sedangkan pH air tidak sesuai standar dan air yang sadah akan merugikan, terutama ketika sedang ada jadwal pengobatan atau vaksinasi. Sebagai contoh antibiotik golongan sulfonamide potensinya akan turun jika dilarutkan pada air dengan pH asam, serta antibiotik dari golongan tetrasiklin potensinya akan turun jika dilarutkan pada air dengan kesadahan melebihi standar atau pH basa. Selain itu, juga akan mempengaruhi potensi vaksin dalam pembentukan kekebalan.
Penyebab Rendahnya Kualitas Air
Pernahkah kita bertanya, kenapa air di farm kita masih terindentifikasi adanya bakteri E. coli atau bagaimana bisa air sadah, pH asam atau basa, padahal air di farm kita jernih ?
Kandungan mikroba E. coli
Adanya cemaran mikroba ini terkait dengan kedalaman sumur, dimana sumur dengan kedalaman terlalu dangkal (rendah) akan lebih mudah tercemar mikroba. Hal ini karena air yang masuk ke sumur merupakan resapan dari air permukaan, dimana bakteri E. coli dapat hidup di tanah (feses) sehingga akan ikut terserap melalui air tersebut. Sumber air dari sungai, juga mudah tercemar bakteri E. coli, karena sungai dimanfaatkan untuk aktivitas rumah tangga manusia atau ternak.
pH
Sumber air minum yang berasal dari sumur dengan kedalaman kurang dari 30 meter atau dekat dengan rawa/ danau, airnya akan memiliki pH asam (pH < 6). Hal ini terkait dengan adanya aktivitas fermentasi dari materi organik seperti daun, bangkai ikan atau tumbuhan air sehingga berakibat pada terjadinya penurunan pH air. Sedangkan sumur dengan kedalaman lebih dari 100 meter atau di daerah berkapur air minumnya akan cenderung memiliki pH basa (pH > 8), karena air yang diambil kaya akan mineral-mineral dari batuan.
Kesadahan
Air sadah merupakan air yang memiliki kandungan ion Ca2+ (kalsium) atau Mg2+ (magnesium) berlebih. Daerah berkapur atau air payau biasanya memiliki tingkat kesadahan tinggi.Untuk mendeteksi air sadah dapat dengan melarutkan detergen ke dalam air, jika sadah airnya tidak akan berbusa.
Agar penanganan tepat, kita harus mendeteksi permasalahan yang terjadi di sumber air di farm kita. Untuk itu lakukan pengujian terhadap kualitas air secara periodik, terutama saat terjadi pergantian musim. Kadar pH dapat diukur dengan pH meter atau kertas lakmus, sedangkan untuk mengukur kesadahan atau identifikasi bakteri E. coli hanya dapat diketahui dengan uji laboratorium di Medilab.
Solusi Efektif
Kandungan mikroba E. coli
Desinfeksi air merupakan salah satu cara efektif untuk mengatasi mikroba di air minum, diantaranya dengan pemberian antiseptik atau kaporit di air yang akan dikonsumsi ayam. Sebagai usaha pencegahan terhadap munculnya infeksi colibacillosis dan agar mikroba baik di usus ayam tidak terganggu lakukan dengan sistem pemberian 3-2-3, 3 hari pemberian antiseptik, 2 hari air minum biasa dan 3 hari pemberian antiseptik lagi. Sedangkan saat terjadi outbreak penyakit, pemberian antiseptik dapat dilakukan malam hari setelah pengobatan selesai dilakukan. Jangan mencampur desinfektan dengan obat/vitamin/vaksin. Khusus air minum yang ditreatment dengan Desinsep/kaporit setelah diendapkan minimal 12 jam baru dapat digunakan untuk melarutkan obat/ vitamin.
pH
Untuk mengatasi pH asam atau basa (standar pH 6-8) paling baik dengan menggunakan zat penetral pH. Biasanya yang dipakai yaitu soda kue (pH asam) atau asam sitrat (pH basa), namun keduanya dirasa kurang efektif karena dosis pemakaiannya belum pasti.
Kesadahan
Untuk mengatasi kesadahan, yang paling umum dilakukan yaitu dengan pemberian skim milk terutama pada saat jadwal vaksinasi.
Kualitas air salah akan menjadi masalah, jika tidak ditangani dengan benar. Oleh karena itu mulai dari awal kita harus memantau kualitas air di farm, sehingga kita bisa mengambil langkah tepat untuk penanganan jika terjadi masalah.
Dari hasil pemantauan terhadap kualitas air peternakan hampir 80% lebih sampel air masih bermasalah atau tidak sesuai standar untuk dikonsumsi ayam. Dengan latar belakang data tersebut dan mengingat arti penting air dalam pemeliharaan ayam.
Fakta Lapangan
Untuk melihat permasalahan kualitas air yang sering terjadi di farm. Hasilnya sampel air yang dikirim dari beberapa wilayah di Indonesia, permasalahan yang sering terjadi diantaranya yaitu adanya cemaran mikroba (bakteri Eschericia coli), pH tidak sesuai standar dan kesadahan air melebihi standar.
Cemaran bakteri E. coli di air minum dapat memicu terjadinya penyakit colibacillosis, sehingga penyembuhan penyakit ini lebih sulit diatasi tanpa menghilangkan cemaran bakteri di air minum. Sedangkan pH air tidak sesuai standar dan air yang sadah akan merugikan, terutama ketika sedang ada jadwal pengobatan atau vaksinasi. Sebagai contoh antibiotik golongan sulfonamide potensinya akan turun jika dilarutkan pada air dengan pH asam, serta antibiotik dari golongan tetrasiklin potensinya akan turun jika dilarutkan pada air dengan kesadahan melebihi standar atau pH basa. Selain itu, juga akan mempengaruhi potensi vaksin dalam pembentukan kekebalan.
Penyebab Rendahnya Kualitas Air
Pernahkah kita bertanya, kenapa air di farm kita masih terindentifikasi adanya bakteri E. coli atau bagaimana bisa air sadah, pH asam atau basa, padahal air di farm kita jernih ?
Kandungan mikroba E. coli
Adanya cemaran mikroba ini terkait dengan kedalaman sumur, dimana sumur dengan kedalaman terlalu dangkal (rendah) akan lebih mudah tercemar mikroba. Hal ini karena air yang masuk ke sumur merupakan resapan dari air permukaan, dimana bakteri E. coli dapat hidup di tanah (feses) sehingga akan ikut terserap melalui air tersebut. Sumber air dari sungai, juga mudah tercemar bakteri E. coli, karena sungai dimanfaatkan untuk aktivitas rumah tangga manusia atau ternak.
pH
Sumber air minum yang berasal dari sumur dengan kedalaman kurang dari 30 meter atau dekat dengan rawa/ danau, airnya akan memiliki pH asam (pH < 6). Hal ini terkait dengan adanya aktivitas fermentasi dari materi organik seperti daun, bangkai ikan atau tumbuhan air sehingga berakibat pada terjadinya penurunan pH air. Sedangkan sumur dengan kedalaman lebih dari 100 meter atau di daerah berkapur air minumnya akan cenderung memiliki pH basa (pH > 8), karena air yang diambil kaya akan mineral-mineral dari batuan.
Kesadahan
Air sadah merupakan air yang memiliki kandungan ion Ca2+ (kalsium) atau Mg2+ (magnesium) berlebih. Daerah berkapur atau air payau biasanya memiliki tingkat kesadahan tinggi.Untuk mendeteksi air sadah dapat dengan melarutkan detergen ke dalam air, jika sadah airnya tidak akan berbusa.
Agar penanganan tepat, kita harus mendeteksi permasalahan yang terjadi di sumber air di farm kita. Untuk itu lakukan pengujian terhadap kualitas air secara periodik, terutama saat terjadi pergantian musim. Kadar pH dapat diukur dengan pH meter atau kertas lakmus, sedangkan untuk mengukur kesadahan atau identifikasi bakteri E. coli hanya dapat diketahui dengan uji laboratorium di Medilab.
Solusi Efektif
Kandungan mikroba E. coli
Desinfeksi air merupakan salah satu cara efektif untuk mengatasi mikroba di air minum, diantaranya dengan pemberian antiseptik atau kaporit di air yang akan dikonsumsi ayam. Sebagai usaha pencegahan terhadap munculnya infeksi colibacillosis dan agar mikroba baik di usus ayam tidak terganggu lakukan dengan sistem pemberian 3-2-3, 3 hari pemberian antiseptik, 2 hari air minum biasa dan 3 hari pemberian antiseptik lagi. Sedangkan saat terjadi outbreak penyakit, pemberian antiseptik dapat dilakukan malam hari setelah pengobatan selesai dilakukan. Jangan mencampur desinfektan dengan obat/vitamin/vaksin. Khusus air minum yang ditreatment dengan Desinsep/kaporit setelah diendapkan minimal 12 jam baru dapat digunakan untuk melarutkan obat/ vitamin.
pH
Untuk mengatasi pH asam atau basa (standar pH 6-8) paling baik dengan menggunakan zat penetral pH. Biasanya yang dipakai yaitu soda kue (pH asam) atau asam sitrat (pH basa), namun keduanya dirasa kurang efektif karena dosis pemakaiannya belum pasti.
Kesadahan
Untuk mengatasi kesadahan, yang paling umum dilakukan yaitu dengan pemberian skim milk terutama pada saat jadwal vaksinasi.
Kualitas air salah akan menjadi masalah, jika tidak ditangani dengan benar. Oleh karena itu mulai dari awal kita harus memantau kualitas air di farm, sehingga kita bisa mengambil langkah tepat untuk penanganan jika terjadi masalah.
Istilah flushing di dunia peternakan:
Istilah flushing di dunia peternakan:
Flusing adalah kegiatas farmer atau peternak yang melakukan pembersihan saluran pipa air minum di kandang ayam khususnya, selain itu flushing dalam arti membuang kotoran yang ada di dalam pipa saluran air dengan secara paksa, seperti dengan cara memasukan aliran air yang deras ke dalam pipa air tersebut.
Tujuan Flushing:
Tujuan Flushing adalah agar ayam senantiasa mengkonsumsi air minum yang steril, bersih, dan sehat.
secara pengertian luas, jika ayam harus atau demi menjaga kesehatan supaya ayam tetap mengkonsumsi air minum steril dan bersih. Maka jalanya adalah bagaimana kita memelihara kebersihan air tersebut.
Flusing adalah kegiatas farmer atau peternak yang melakukan pembersihan saluran pipa air minum di kandang ayam khususnya, selain itu flushing dalam arti membuang kotoran yang ada di dalam pipa saluran air dengan secara paksa, seperti dengan cara memasukan aliran air yang deras ke dalam pipa air tersebut.
Tujuan Flushing:
Tujuan Flushing adalah agar ayam senantiasa mengkonsumsi air minum yang steril, bersih, dan sehat.
secara pengertian luas, jika ayam harus atau demi menjaga kesehatan supaya ayam tetap mengkonsumsi air minum steril dan bersih. Maka jalanya adalah bagaimana kita memelihara kebersihan air tersebut.
Penanganan Penyakit Pernafasan
Penanganan Penyakit Pernafasan
Akibat yang ditimbulkan penyakit pernapasan dapat mempengaruhi produktivitas ayam, oleh karena itu penanganannya harus dilakukan dengan cepat & tepat.
1. Penanganan saat terjadi kasus
a. Identifikasi penyebab
Cari penyebab kasus penyakit pernapasan, karena faktor non infeksius (contoh ventilasi udara kurang atau kadar amonia terlalu tinggi) atau infeksi penyakit. Identifikasi yang salah berakibat pada penanganan yang salah. Hal inilah yang kadang menyebabkan kasus penyakit sulit diatasi.
Pada kasus karena penyakit, juga harus dilakukan diagnosa secara cepat dan tepat. Hal tersebut terkait dengan pemilihan antibiotik yang sesuai untuk penanganan penyakit.
b. Isolasi & seleksi
Seleksi/ culling atau afkir ayam yang telah menunjukkan infeksi parah, hal ini lebih baik dilakukan untuk meminimalkan penyebaran atau penularan bibit penyakit antar ayam. Jika merasa sayang untuk diafkir, peliharalah di kandang isolasi.
c. Pemberian antibiotik
Setelah diagnosa tepat dan telah diketahui penyebabnya, berikan antibiotik sesuai penyakit dan tingkat keparahan penyakit. Contohnya pada kasus CRD, jangan memberikan obat dari golongan penisillin, karena penisillin bekerja secara inhibisi (menghambat) pembentukan dinding sel sedangkan Mycoplasma tidak memiliki dinding sel.
Pada kasus yang parah, pilih antibiotik dengan metode aplikasi suntikan untuk mempercepat penyembuhan penyakit. Atau bisa juga dilakukan kombinasi pemberian antibiotik melalui air minum dan injeksi. Pilihan antibiotik yang dapat digunakan untuk pengobatan CRD & korisa yaitu.
Yang perlu diperhatikan pada saat pemberian obat adalah ketepatan pemilihan obat sesuai penyakit yang menyerang, ketepatan dosis, lama waktu kontak obat dan kualitas air minum.
d. Pemberian vitamin
Terapi supportif dengan pemberian multivitamin pada malam hari setelah pengobatan, diharapkan dapat mempercepat pemulihan kondisi tubuh ayam.
e. Perbaikan manajemen pemeliharaan dan biosekuriti dilakukan secara ketat
2. Penanganan untuk mencegah terjadinya kasus penyakit
Agar penyakit pernapasan karena faktor infeksius sekaligus non infeksius dapat dicegah perlu dilakukan program gabungan yang komprehensif yaitu :
a. Lingkungan kandang nyaman
Ayam akan nyaman jika tatalaksana pemeliharaan ayam dilakukan dengan baik. Struktur kandang yang perlu diperhatikan agar ayam nyaman yaitu tipe dan ketinggian lantai kandang, bahan dan model atap, jarak antar kandang dan arah kandang. Jika struktur kandang telah dibangun dengan baik, kita akan dengan mudah mengatur hal-hal berikut:
• Suhu dan kelembaban
Agar kondisi kandang nyaman, lakukan pengecekan suhu dan kelembaban dengan termohygrometer yang dipasang di tengah kandang. Atau dapat juga dilihat dari tingkah laku ayam, jika ayam aktif maka kondisi kandang telah nyaman.
• Kecepatan aliran angin
Penambahan exhaust fan atau blower dapat membantu sirkulasi udara. Dalam pemakaiannya harus memperhatikan arah dan kecepatan angin. Kecepatan aliran angin yang menerpa tubuh ayam tidak lebih dari 2,5-3 m/detik untuk ayam dewasa dan untuk ayam kecil (masa brooding) tidak boleh lebih dari 0,3-0,6 m/detik.
• Kontrol debu dan ammonia
Pilih bahan litter yang mudah menyerap air dan tidak menimbulkan debu. Sebelum bahan litter digunakan desinfeksi terlebih dahulu. Agar litter tidak mudah basah hati-hati saat penggantian air minum, periksa kondisi atap jangan sampai ada yang bocor terutama saat musim hujan, atur kepadatan kandang dan lakukan pembalikan litter atau penambahan litter baru.
Manajemen litter yang baik dapat meminimalkan amonia yang berlebih
• Kepadatan kandang
Kepadatan kandang yang berlebih akan meningkatkan kompetisi antar ayam dalam mendapatkan oksigen, ransum dan air minum. Oleh karenanya atur kapasitas kandang, jangan sampai berlebihan. Secara normal 1 m2 bisa digunakan untuk 6-8 ekor atau 15 kg berat badan ayam broiler dewasa.
b. Program kesehatan
Karena tingkat kerugian akibat serangan korisa lumayan besar dan ayam yang pernah terserang bersifat carrier (pembawa), vaksinasi bisa menjadi pilihan sebagai tindakan pencegahan.
Vaksinasi ayam layer dilakukan pada umur 6-8 minggu dan diulangi 16-18 minggu. Pada kondisi khusus misalnya ayam masih sering terserang pada masa produksi, vaksinasi dapat dilakukan 3 kali pada masa pullet (sebelum masuk masa produksi). Sedangkan vaksinasi ayam broiler pada umur 1-2 minggu. Akan lebih tepat bila jadwal vaksinasi disesuaikan dengan kondisi di peternakan setempat, paling lambat 3-4 minggu sebelum umur serangan penyakit (dapat diamati dari sejarah terjadinya penyakit di farm).
Pemberian multivitamin disaat kondisi rawan (misalnya perubahan musim/ cuaca, saat pindah kandang, saat awal produksi atau puncak produksi) dapat meningkatkan kondisi tubuh ayam. Pemberian antibiotik saat terjadi kasus CRD atau korisa yang merebak di farm tetangga yang lokasinya berdekatan dengan farm kita dapat menjadi cleaning program (pemberian antibiotik sebagai usaha pencegahan).
c. Biosekuriti
Sanitasi dan desinfeksi yang dilakukan secara rutin dapat mengurangi populasi bibit penyakit yang berada di sekitar ayam. Langkah-langkah biosekuriti yang dapat dilakukan yaitu:
•Pencucian dan desinfeksi peralatan kandang (tempat ransum, tempat minum) secara rutin
•Semprot kandang setiap 1-2 minggu sekali dengan menggunakan desinfektan seperti Antisep, Neo Antisep atau Zaldes. Saat terjadi kasus semprot kandang sebaiknya diperketat, hati-hati saat penyemprotan jangan mengenai larutan obat/vitamin
•Sanitasi air minum menggunakan Antisep, Neo Antisep atau Desinsep secara rutin dapat mencegah penularan penyakit melalui air minum, selain itu meminimalkan cemaran bakteri E. coli. Saat terjadi kasus CRD kompleks, sanitasi air minum dapat dilakukan malam hari setelah pengobatan
•Saat kontrol ayam sehari-hari, awali dari ayam berumur muda ke ayam tua. Hal ini untuk meminimalkan penularan penyakit terutama jika pemeliharaan ayam tidak menerapkan sistem all in all out pada farm broiler atau one age farming pada farm layer
•Pekerja kandang harus disiplin menggunakan alas kaki atau baju khusus untuk bekerja di farm, cuci tangan dan desinfeksi alas kaki saat akan pindah ke kandang lain
•Tamu asing yang tidak berkepentingan tidak diijinkan untuk memasuki areal kandang
Perbaikan genetik dan tingginya produktivitas ayam, berdampak pada makin sensitifnya ayam terhadap perubahan lingkungan dan penyakit terutama penyakit pernapasan. Praktek manajemen pemeliharan ayam yang dilakukan dengan baik, didukung biosekuriti yang ketat dan program vaksinasi sesuai sejarah penyakit akan mampu menekannya.
Akibat yang ditimbulkan penyakit pernapasan dapat mempengaruhi produktivitas ayam, oleh karena itu penanganannya harus dilakukan dengan cepat & tepat.
1. Penanganan saat terjadi kasus
a. Identifikasi penyebab
Cari penyebab kasus penyakit pernapasan, karena faktor non infeksius (contoh ventilasi udara kurang atau kadar amonia terlalu tinggi) atau infeksi penyakit. Identifikasi yang salah berakibat pada penanganan yang salah. Hal inilah yang kadang menyebabkan kasus penyakit sulit diatasi.
Pada kasus karena penyakit, juga harus dilakukan diagnosa secara cepat dan tepat. Hal tersebut terkait dengan pemilihan antibiotik yang sesuai untuk penanganan penyakit.
b. Isolasi & seleksi
Seleksi/ culling atau afkir ayam yang telah menunjukkan infeksi parah, hal ini lebih baik dilakukan untuk meminimalkan penyebaran atau penularan bibit penyakit antar ayam. Jika merasa sayang untuk diafkir, peliharalah di kandang isolasi.
c. Pemberian antibiotik
Setelah diagnosa tepat dan telah diketahui penyebabnya, berikan antibiotik sesuai penyakit dan tingkat keparahan penyakit. Contohnya pada kasus CRD, jangan memberikan obat dari golongan penisillin, karena penisillin bekerja secara inhibisi (menghambat) pembentukan dinding sel sedangkan Mycoplasma tidak memiliki dinding sel.
Pada kasus yang parah, pilih antibiotik dengan metode aplikasi suntikan untuk mempercepat penyembuhan penyakit. Atau bisa juga dilakukan kombinasi pemberian antibiotik melalui air minum dan injeksi. Pilihan antibiotik yang dapat digunakan untuk pengobatan CRD & korisa yaitu.
Yang perlu diperhatikan pada saat pemberian obat adalah ketepatan pemilihan obat sesuai penyakit yang menyerang, ketepatan dosis, lama waktu kontak obat dan kualitas air minum.
d. Pemberian vitamin
Terapi supportif dengan pemberian multivitamin pada malam hari setelah pengobatan, diharapkan dapat mempercepat pemulihan kondisi tubuh ayam.
e. Perbaikan manajemen pemeliharaan dan biosekuriti dilakukan secara ketat
2. Penanganan untuk mencegah terjadinya kasus penyakit
Agar penyakit pernapasan karena faktor infeksius sekaligus non infeksius dapat dicegah perlu dilakukan program gabungan yang komprehensif yaitu :
a. Lingkungan kandang nyaman
Ayam akan nyaman jika tatalaksana pemeliharaan ayam dilakukan dengan baik. Struktur kandang yang perlu diperhatikan agar ayam nyaman yaitu tipe dan ketinggian lantai kandang, bahan dan model atap, jarak antar kandang dan arah kandang. Jika struktur kandang telah dibangun dengan baik, kita akan dengan mudah mengatur hal-hal berikut:
• Suhu dan kelembaban
Agar kondisi kandang nyaman, lakukan pengecekan suhu dan kelembaban dengan termohygrometer yang dipasang di tengah kandang. Atau dapat juga dilihat dari tingkah laku ayam, jika ayam aktif maka kondisi kandang telah nyaman.
• Kecepatan aliran angin
Penambahan exhaust fan atau blower dapat membantu sirkulasi udara. Dalam pemakaiannya harus memperhatikan arah dan kecepatan angin. Kecepatan aliran angin yang menerpa tubuh ayam tidak lebih dari 2,5-3 m/detik untuk ayam dewasa dan untuk ayam kecil (masa brooding) tidak boleh lebih dari 0,3-0,6 m/detik.
• Kontrol debu dan ammonia
Pilih bahan litter yang mudah menyerap air dan tidak menimbulkan debu. Sebelum bahan litter digunakan desinfeksi terlebih dahulu. Agar litter tidak mudah basah hati-hati saat penggantian air minum, periksa kondisi atap jangan sampai ada yang bocor terutama saat musim hujan, atur kepadatan kandang dan lakukan pembalikan litter atau penambahan litter baru.
Manajemen litter yang baik dapat meminimalkan amonia yang berlebih
• Kepadatan kandang
Kepadatan kandang yang berlebih akan meningkatkan kompetisi antar ayam dalam mendapatkan oksigen, ransum dan air minum. Oleh karenanya atur kapasitas kandang, jangan sampai berlebihan. Secara normal 1 m2 bisa digunakan untuk 6-8 ekor atau 15 kg berat badan ayam broiler dewasa.
b. Program kesehatan
Karena tingkat kerugian akibat serangan korisa lumayan besar dan ayam yang pernah terserang bersifat carrier (pembawa), vaksinasi bisa menjadi pilihan sebagai tindakan pencegahan.
Vaksinasi ayam layer dilakukan pada umur 6-8 minggu dan diulangi 16-18 minggu. Pada kondisi khusus misalnya ayam masih sering terserang pada masa produksi, vaksinasi dapat dilakukan 3 kali pada masa pullet (sebelum masuk masa produksi). Sedangkan vaksinasi ayam broiler pada umur 1-2 minggu. Akan lebih tepat bila jadwal vaksinasi disesuaikan dengan kondisi di peternakan setempat, paling lambat 3-4 minggu sebelum umur serangan penyakit (dapat diamati dari sejarah terjadinya penyakit di farm).
Pemberian multivitamin disaat kondisi rawan (misalnya perubahan musim/ cuaca, saat pindah kandang, saat awal produksi atau puncak produksi) dapat meningkatkan kondisi tubuh ayam. Pemberian antibiotik saat terjadi kasus CRD atau korisa yang merebak di farm tetangga yang lokasinya berdekatan dengan farm kita dapat menjadi cleaning program (pemberian antibiotik sebagai usaha pencegahan).
c. Biosekuriti
Sanitasi dan desinfeksi yang dilakukan secara rutin dapat mengurangi populasi bibit penyakit yang berada di sekitar ayam. Langkah-langkah biosekuriti yang dapat dilakukan yaitu:
•Pencucian dan desinfeksi peralatan kandang (tempat ransum, tempat minum) secara rutin
•Semprot kandang setiap 1-2 minggu sekali dengan menggunakan desinfektan seperti Antisep, Neo Antisep atau Zaldes. Saat terjadi kasus semprot kandang sebaiknya diperketat, hati-hati saat penyemprotan jangan mengenai larutan obat/vitamin
•Sanitasi air minum menggunakan Antisep, Neo Antisep atau Desinsep secara rutin dapat mencegah penularan penyakit melalui air minum, selain itu meminimalkan cemaran bakteri E. coli. Saat terjadi kasus CRD kompleks, sanitasi air minum dapat dilakukan malam hari setelah pengobatan
•Saat kontrol ayam sehari-hari, awali dari ayam berumur muda ke ayam tua. Hal ini untuk meminimalkan penularan penyakit terutama jika pemeliharaan ayam tidak menerapkan sistem all in all out pada farm broiler atau one age farming pada farm layer
•Pekerja kandang harus disiplin menggunakan alas kaki atau baju khusus untuk bekerja di farm, cuci tangan dan desinfeksi alas kaki saat akan pindah ke kandang lain
•Tamu asing yang tidak berkepentingan tidak diijinkan untuk memasuki areal kandang
Perbaikan genetik dan tingginya produktivitas ayam, berdampak pada makin sensitifnya ayam terhadap perubahan lingkungan dan penyakit terutama penyakit pernapasan. Praktek manajemen pemeliharan ayam yang dilakukan dengan baik, didukung biosekuriti yang ketat dan program vaksinasi sesuai sejarah penyakit akan mampu menekannya.
Dampak Gangguan Sistem Pernafasan Ayam
Diposting oleh
Drh. Gusti Made Yudianto
0
komentar
Dampak Gangguan Sistem Pernapasan Ayam
Tubuh ayam secara alami mempunyai mekanisme pertahanan terhadap serangan agen penyakit, salah satunya adalah sistem pertahanan primer yang meliputi kekebalan fisik (contoh bersin/ batuk) dan mekanik, serta faktor kimiawi (pengeluaran enzim, pH). Kekebalan primer ini merupakan sistem pertahanan awal untuk mencegah masuknya agen penyakit.
Gabungan dari silia, sel epitel, lendir dan enzim-enzim dalam sistem pernapasan ayam dapat dikatakan sebagai sistem pertahanan primer di saluran pernapasan. Tidak berfungsinya sistem pertahanan tersebut, akan memicu masuknya agen infeksi. Dan ketika agen infeksi tersebut masuk ke dalam tubuh ayam, jika tidak segera ditangani dengan tepat maka ayam akan sakit bahkan dapat berujung pada kematian.
Penyebab gangguan sistem pernapasan dibagi menjadi 2 faktor utama, non infeksius dan infeksius.
1. Non infeksius
a. Iklim dan cuaca
Fluktuasi suhu dan cuaca yang berubah-ubah dapat menyebabkan tingkat stres meningkat dan mengakibatkan gangguan pada saluran pernapasan. Suhu yang nyaman untuk ayam ialah 25-28OC dengan kelembaban 60-70%. Kelembaban udara < 50% akan menyebabkan membran mukosa saluran pernapasan termasuk sinus kering. Akibatnya aktivitas silia menjadi terhambat dan potensi masuknya debu maupun bibit penyakit meningkat. Sedangkan kelembaban yang terlalu tinggi dapat menaikkan konsentrasi amonia di udara dan memudahkan tumbuhnya jamur. Jika hal tersebut tidak segera diatasi, maka penyakit pernapasan pun tak dapat dihindari.
b. Kualitas air minum
Peternakan yang menggunakan air minum dari air permukaan (sumur dengan kedalaman < 50 m, air sungai atau air danau), kemungkinan memiliki kualitas air yang rendah terutama jumlah bakteri Escherichia coli yang tinggi. Jika hal ini tidak disikapi dengan benar dapat menjadi faktor pendukung timbulnya penyakit colibacillosis, dimana predileksi penyakit ini juga dapat menyerang saluran pernapasan ayam. Hal inilah yang menjadi penyebab colibacillosis mudah menumpangi CRD & korisa.
c. Kualitas pakan
Komposisi pakan yang tidak seimbang dapat memicu terjadinya penyakit pernapasan. Terutama kadar protein dan garam dalam pakan. Kelebihan protein kasar pada ransum akan disekresikan bersama feses sehingga kadar asam urat di feses meningkat. Akibatnya, asam urat tersebut akan diuraikan oleh bakteri ureolitik menjadi amonia. Begitu juga jika kadar garam tinggi yang akan memicu peningkatan konsumsi air minum sehingga feses menjadi lebih encer. Feses yang encer akan mempercepat pembentukan gas amonia.
d. Kualitas litter
Litter yang basah bisa menjadi tempat berakumulasinya gas-gas yang berbahaya bagi ayam, seperti amonia dan H2S. Kadar amonia yang dapat ditoleransi ayam adalah < 20 ppm (part per million atau 1:1 juta). Kadar amonia yang berlebih dapat menyebabkan kerusakan sistem pernapasan diantaranya merusak silia dan produksi lendir berlebih, mengganggu gerakan silia bahkan dapat mengakibatkan iritasi konjungtiva mata.
2. Infeksius
Faktor infeksius juga dapat menyebabkan gangguan pernapasan, misalnya karena infeksi virus (AI, ND, IB dan ILT), bakteri (CRD dan korisa) dan cacing (cacing Syngamus trachea). Dibandingkan dengan kasus viral dan cacingan, penyakit pernapasan yang disebabkan bakteri paling sering terjadi di lapangan. Hal ini didukung data kejadian penyakit di lapangan.
Tubuh ayam secara alami mempunyai mekanisme pertahanan terhadap serangan agen penyakit, salah satunya adalah sistem pertahanan primer yang meliputi kekebalan fisik (contoh bersin/ batuk) dan mekanik, serta faktor kimiawi (pengeluaran enzim, pH). Kekebalan primer ini merupakan sistem pertahanan awal untuk mencegah masuknya agen penyakit.
Gabungan dari silia, sel epitel, lendir dan enzim-enzim dalam sistem pernapasan ayam dapat dikatakan sebagai sistem pertahanan primer di saluran pernapasan. Tidak berfungsinya sistem pertahanan tersebut, akan memicu masuknya agen infeksi. Dan ketika agen infeksi tersebut masuk ke dalam tubuh ayam, jika tidak segera ditangani dengan tepat maka ayam akan sakit bahkan dapat berujung pada kematian.
Penyebab gangguan sistem pernapasan dibagi menjadi 2 faktor utama, non infeksius dan infeksius.
1. Non infeksius
a. Iklim dan cuaca
Fluktuasi suhu dan cuaca yang berubah-ubah dapat menyebabkan tingkat stres meningkat dan mengakibatkan gangguan pada saluran pernapasan. Suhu yang nyaman untuk ayam ialah 25-28OC dengan kelembaban 60-70%. Kelembaban udara < 50% akan menyebabkan membran mukosa saluran pernapasan termasuk sinus kering. Akibatnya aktivitas silia menjadi terhambat dan potensi masuknya debu maupun bibit penyakit meningkat. Sedangkan kelembaban yang terlalu tinggi dapat menaikkan konsentrasi amonia di udara dan memudahkan tumbuhnya jamur. Jika hal tersebut tidak segera diatasi, maka penyakit pernapasan pun tak dapat dihindari.
b. Kualitas air minum
Peternakan yang menggunakan air minum dari air permukaan (sumur dengan kedalaman < 50 m, air sungai atau air danau), kemungkinan memiliki kualitas air yang rendah terutama jumlah bakteri Escherichia coli yang tinggi. Jika hal ini tidak disikapi dengan benar dapat menjadi faktor pendukung timbulnya penyakit colibacillosis, dimana predileksi penyakit ini juga dapat menyerang saluran pernapasan ayam. Hal inilah yang menjadi penyebab colibacillosis mudah menumpangi CRD & korisa.
c. Kualitas pakan
Komposisi pakan yang tidak seimbang dapat memicu terjadinya penyakit pernapasan. Terutama kadar protein dan garam dalam pakan. Kelebihan protein kasar pada ransum akan disekresikan bersama feses sehingga kadar asam urat di feses meningkat. Akibatnya, asam urat tersebut akan diuraikan oleh bakteri ureolitik menjadi amonia. Begitu juga jika kadar garam tinggi yang akan memicu peningkatan konsumsi air minum sehingga feses menjadi lebih encer. Feses yang encer akan mempercepat pembentukan gas amonia.
d. Kualitas litter
Litter yang basah bisa menjadi tempat berakumulasinya gas-gas yang berbahaya bagi ayam, seperti amonia dan H2S. Kadar amonia yang dapat ditoleransi ayam adalah < 20 ppm (part per million atau 1:1 juta). Kadar amonia yang berlebih dapat menyebabkan kerusakan sistem pernapasan diantaranya merusak silia dan produksi lendir berlebih, mengganggu gerakan silia bahkan dapat mengakibatkan iritasi konjungtiva mata.
2. Infeksius
Faktor infeksius juga dapat menyebabkan gangguan pernapasan, misalnya karena infeksi virus (AI, ND, IB dan ILT), bakteri (CRD dan korisa) dan cacing (cacing Syngamus trachea). Dibandingkan dengan kasus viral dan cacingan, penyakit pernapasan yang disebabkan bakteri paling sering terjadi di lapangan. Hal ini didukung data kejadian penyakit di lapangan.
Sistem Pernafasan Ayam
Diposting oleh
Drh. Gusti Made Yudianto
2
komentar
Sistem Pernafasan Ayam
Fungsi utama saluran pernapasan ayam adalah menyediakan oksigen, menge-luarkan karbondioksida (CO2), membantu proses kekebalan primer dan memperlancar mekanisme pengaturan suhu tubuh. Syarat utama agar sistem pernapasan berfungsi baik adalah ketersediaan udara bersih dan saluran pernapasan yang sehat.
Secara anatomi, alat pernapasan ayam terdiri dari tiga bagian utama, yaitu :
1. Saluran pernapasan atas
Saluran pernapasan bagian atas ayam terdiri dari rongga hidung, laryng, trakea (tenggorokan), bronkus dan bronkeolus. Rongga hidung terhubung langsung ke beberapa sinus seperti sinus infraorbitalis dan sinus supraorbitalis. Karena berhubungan langsung, sangat memudahkan benda-benda asing yang terdapat di udara, termasuk bibit penyakit dapat masuk ke dalam sinus secara langsung.
Rongga hidung dilengkapi dengan silia (bulu getar) yang berperan menyaring partikel-partikel yang tercampur udara yang dihirup ayam, seperti debu maupun bibit penyakit (virus maupun bakteri). Sedangkan pada bagian trakea, bronkus dan bronkeolus dilengkapi dengan sel-sel epitel yang juga mempunyai bulu getar dan sel tak bersilia yang akan menghasilkan lendir yang mengandung enzim proteolitik dan surfaktan. Adanya enzim dan surfaktan (penurun tegangan permukaan) tersebut mampu menghancurkan beberapa mikroorganisme patogen.
Silia hidung hanya mampu menahan partikel berukuran 3,7-7,0 mikron, sedangkan partikel yang lebih kecil lagi akan lolos dan bertahan di saluran pernapasan ayam. Perlu diketahui juga ukuran partikel yang berada di udara kebanyakan memiliki diameter 1-5 mikron, sedangkan ukuran virus atau bakteri lebih kecil lagi contohnya bakteri Mycoplasma berukuran 0,25-0,5 mikron atau virus AI hanya berdiameter 0,08-0,12 mikron. Bisa dibayangkan jika silia mengalami kerusakan (misalnya oleh kadar amonia yang tinggi), maka bibit penyakit akan dengan mudah masuk ke saluran pernapasan dan pada akhirnya ayam akan mengalami gangguan pernapasan yang berujung pada terjadinya kasus penyakit.
2. Paru-paru
Struktur anatomi paru-paru dengan jaringan yang kenyal dan banyaknya pembuluh darah sangat memudahkan pertukaran udara. Pada bagian paru-paru terdapat banyak percabangan bronkus yang disebut sebagai parabronkus. Pada beberapa area, ujung-ujung parabronkus bersatu dan terhubung dengan kantung udara.
3. Kantung udara
Udara dari paru-paru, masuk ke dalam kantung udara. Kantung udara sangat berperan penting dalam pernapasan terutama saat inspirasi (menghirup udara) atau ekspirasi (menghembuskan udara).
Kantung udara sendiri menjadi titik lemah sistem pernapasan, karena hanya terdiri dari beberapa lapis sel dan sedikit pembuluh darahnya. Pada bagian ini sangat sedikit sel fagosit, sedangkan agen infeksi di lingkungan sangat banyak, hal ini akan memudahkan agen infeksi untuk melakukan kolonisasi dan merusak sel-sel epitel.
Fungsi utama saluran pernapasan ayam adalah menyediakan oksigen, menge-luarkan karbondioksida (CO2), membantu proses kekebalan primer dan memperlancar mekanisme pengaturan suhu tubuh. Syarat utama agar sistem pernapasan berfungsi baik adalah ketersediaan udara bersih dan saluran pernapasan yang sehat.
Secara anatomi, alat pernapasan ayam terdiri dari tiga bagian utama, yaitu :
1. Saluran pernapasan atas
Saluran pernapasan bagian atas ayam terdiri dari rongga hidung, laryng, trakea (tenggorokan), bronkus dan bronkeolus. Rongga hidung terhubung langsung ke beberapa sinus seperti sinus infraorbitalis dan sinus supraorbitalis. Karena berhubungan langsung, sangat memudahkan benda-benda asing yang terdapat di udara, termasuk bibit penyakit dapat masuk ke dalam sinus secara langsung.
Rongga hidung dilengkapi dengan silia (bulu getar) yang berperan menyaring partikel-partikel yang tercampur udara yang dihirup ayam, seperti debu maupun bibit penyakit (virus maupun bakteri). Sedangkan pada bagian trakea, bronkus dan bronkeolus dilengkapi dengan sel-sel epitel yang juga mempunyai bulu getar dan sel tak bersilia yang akan menghasilkan lendir yang mengandung enzim proteolitik dan surfaktan. Adanya enzim dan surfaktan (penurun tegangan permukaan) tersebut mampu menghancurkan beberapa mikroorganisme patogen.
Silia hidung hanya mampu menahan partikel berukuran 3,7-7,0 mikron, sedangkan partikel yang lebih kecil lagi akan lolos dan bertahan di saluran pernapasan ayam. Perlu diketahui juga ukuran partikel yang berada di udara kebanyakan memiliki diameter 1-5 mikron, sedangkan ukuran virus atau bakteri lebih kecil lagi contohnya bakteri Mycoplasma berukuran 0,25-0,5 mikron atau virus AI hanya berdiameter 0,08-0,12 mikron. Bisa dibayangkan jika silia mengalami kerusakan (misalnya oleh kadar amonia yang tinggi), maka bibit penyakit akan dengan mudah masuk ke saluran pernapasan dan pada akhirnya ayam akan mengalami gangguan pernapasan yang berujung pada terjadinya kasus penyakit.
2. Paru-paru
Struktur anatomi paru-paru dengan jaringan yang kenyal dan banyaknya pembuluh darah sangat memudahkan pertukaran udara. Pada bagian paru-paru terdapat banyak percabangan bronkus yang disebut sebagai parabronkus. Pada beberapa area, ujung-ujung parabronkus bersatu dan terhubung dengan kantung udara.
3. Kantung udara
Udara dari paru-paru, masuk ke dalam kantung udara. Kantung udara sangat berperan penting dalam pernapasan terutama saat inspirasi (menghirup udara) atau ekspirasi (menghembuskan udara).
Kantung udara sendiri menjadi titik lemah sistem pernapasan, karena hanya terdiri dari beberapa lapis sel dan sedikit pembuluh darahnya. Pada bagian ini sangat sedikit sel fagosit, sedangkan agen infeksi di lingkungan sangat banyak, hal ini akan memudahkan agen infeksi untuk melakukan kolonisasi dan merusak sel-sel epitel.
Cara SEXING DOC berdasarkan bulu sayap
Cara SEXING DOC berdasarkan bulu sayap
1. Pengamatan dari atas/punggung :
1. Pengamatan dari atas/punggung :
- Primary feathers : Bulu utama
- Covert feathers : Bulu penutup
- Jantan : Jika bulu penutup sama panjang dengan bulu utama.
- Betina : Jika bulu penutup lebih pendek dari bulu utama.
Langganan:
Postingan (Atom)















