PENYAKIT GUMBORO

PENYAKIT GUMBORO

Nama lain: Infectious Bursal Disease (IBD), Avian nephrosis atau Avian Infectious Bursitis. Merupakan penyakit menular akut pada ayam berumur muda yang ditandai dengan peradangan berat bursa fabrisius dan bersifat immunosupresif yaitu lumpuhnya system pertahanan tubuh ayam yang mengakibatkan turunnya respon ayam terhadap vaksinasi dan ayam-ayam menjadi lebih peka terhadap pathogen lainnya.

Etiologi
Penyakit disebabkan oleh Birnavirus dari family Birnaviridae, termasuk satu grup dengan Infectious Pancreatic Necrosis Virus (IPNV) pada ikan, Drosophilla X Virus (DXV) pada serangga dan Tellinavirus pada kerang-kerangan.
Virus ini dikelompokkan ke dalam 2 serotipe berdasarkan uji netralisasi virus yaitu serotipe I dengan beberapa subtipe antigenik yang patogen pada ayam, serotipe II menginfeksi kalkun tanpa disertai gejala klinis.

Jenis Unggas Terserang
Semua jenis unggas peka terhadap Gumboro, tetapi yang paling sering dilaporkan terserang adalah ayam ras petelur dan broiler, meskipun ayam buras juga dapat terserang.
Ayam yang paling banyak terserang adalah kelompok umur 3 sampai 6 minggu, sedangkan ayam yang berumur kurang dari 2 minggu biasanya tidak menunjukkan gejala klinis tetapi dapat bersifat imunosupresif.
Cara Penularan
Penyakit ini sangat menular dan penularan terjadi melalui kontak langsung antara yang sakit dengan yang sehat. Disamping itu melalui ekskresi yang mencemari peralatan kandang dan alas kandang. Kandang tercemar menjadi sumber penularan yang potensial.
Virus ini tidak pernah dikeluarkan melalui saluran pernafasan, karena itu penularan melalui saluran pernafasan dianggap tidak potensial, demikian pula tidak terjadi penularan secara vertikal melalui telur.

Morbiditas dan Mortalitas
Ayam-ayam terserang Gumboro mempunyai tingkat morbiditas 40 sampai 60 % dan mortalitas bisa mencapai 2-31,8 % dengan rata-rata 7,78 % (broiler) dan 7,34 % (petelur). Tingkat mortalitas paling tinggi terjadi pada hari ke-4 dan ke-5 pascainfeksi dan kesembuhan terjadi setelah hari ke-5 sampai ke-12. Ayam-ayam yang sembuh akan memiliki antibody yang tinggi dan bertahan lebih dari 1 tahun serta tidak ada pengaruh terhadap respon vaksinasi ND dan produksi telur.

Gejala Klinis
Masa inkubasi penyakit pada kasus alami tidak jelas diketahui, sedangkan untuk infeksi percobaan masa inkubasi sangat pendek yaitu berlangsung antara 2-3 hari. Ayam-ayam terserang biasanya ditandai dengan gejala depresi, nafsu makan menurun, lemah, gemetar, sesak nafas, bulu-bulu merinding dan kotor terutama bulu-bulu didaerah perut dan dubur, selanjutnya diikuti dengan mencret, feses berwarna putih kapur dan kematian terjadi akibat dehidrasi.

Diagnosa
Gumboro dapat didiagnosa berdasarkan gejala klinis, epidemiologis, patologi, isolasi dan identifikasi virus. Beberapa uji serologis untuk menisolasi dan identifikasi virus berupa uji AGP, FAT, CIEP, Western Blotting Assay, SN dan ELISA.
Pencegahan dan Pemberantasan
Sesuai dengan Surat Keputusan Menteri Pertanian No. 53/TN.520/DJP/DEPTAN/1991 penegasan tentang timbulnya wabah dan langkah-langkah pemberantasan yang dapat dilakukan mmeliputi:
1. Tahap Identifikasi, meliputi identifikasi wabah penyakit, strain ayam tertular, parent stock farm, unit farm tertular dan sumber penularan (uji kekebalan).
2. Tahap Pemberantasan. Ditujukan terhadap farm tertular dengan melakukan tindakan isolasi ayam-ayam yang sakit dan penutupan sementara farm.
3. Tahap Pengamanan dan konsolidasi. Ditujukan terhadap pengamanan konsumen meliputi pengamanan konsumsi daging dan telur, pengamanan potensi suplai ayam. Pengamanan terhadap peternakan ayam meliputi pemasukan ayam baru, lalu lintas dan vaksinasi rutin.
4. Vaksinasi, merupakan cara yang paling efektif untuk mencegah Gumboro. Ada 2 jenis vaksin yang biasa digunakan yaitu vaksin aktif atau hidup dan vaksin inaktif.

0 komentar:

Poskan Komentar

 

Kesehatan unggas © 2011 Design by Drh. Gusti Made | Sponsored by Gusti Nyoman S.Kom